News Room, Jumat ( 23/10 ) Akhir-akhir ini banyak peristiwa kriminal berupa tindak kekerasan fisik yang tak jarang sampai menghilangkan nyawa orang. Seperti kejadian Kamis (22/10) kemarin, Sumenep digegerkan oleh peristiwa pembunuhan sadis satu keluarga oleh seseorang yang tak lain adalah menantu sekaligus mantan suami dari para korban bernama Abdurrahman dan Suhairiyah (mertua), serta bekas suami dari korban bernama Sarah Dina Rahman.
Menurut salah satu tokoh agama Sumenep, Drs. KR. Ismail Wongsoleksono, setiap tindak kekerasan yang brutal disebabkan oleh efek dari sikap marah yang tidak terkontrol, sehingga ketika seorang dikuasai amarahnya, maka setiap tindakannya akan cenderung membabi-buta.
"Oleh karena itu, agama mengajarkan agar setiap muslim senantiasa mengingat Penciptanya. Karena marah itu pada hakikatnya adalah keadaan dimana seseorang itu lupa pada Allah, dalam artian lalai dari dzikrullah,"kata Kiai Ismail, pada News Room.
Menurut Kiai Ismail, marah juga merupakan perangkat syaithan. Karena marah dan syaithan berasal dari unsur yang sama, yaitu api. Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda bahwa jika marah, seseorang dianjurkan untuk berwudlu atau mandi.
"Marah itu dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air,"tambah Kiai Ismail.
Tak hanya itu, Kiai Ismail melanjutkan, Rasul juga mengatakan jika dalam keadaan marah dianjurkan untuk merubah posisi badan dari posisi meninggi pada merendah.
"Jika marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika belum juga mereda, maka berbaring atau tidur,"tutupnya. ( Farhan, Esha )