News Room, Kamis ( 06/03 ) Diawal Maret 2014 ini, menjadi catatan pahit para pedagang di Pasar Anom Baru, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep. Sekitar 600-an kios di pasar tersebut, Rabu (05/03) malam, hangus terbakar. Kejadian ini merupakan kedua kalinya pasca kebakaran, pada tahun 2007 silam. Si Jago Merah melalap kios di Pasar Anom mulai pukul 20.30 WIB, Rabu (05/03) malam. Untuk melokalisir si jago merah, 2 unit pemadam kebakaran dan dibantu 2 unit tangki air milik Kantor Kebersihan dan Pertamanan Sumenep serta dibantu oleh Pemadam Kebakaran milik Pemerintah Kabupaten Pamekasan dikerahkan cukup maksimal. Bahkan, hingga Kamis (06/03) siang pukul 12:00 WIB, petugas pemadam kebakaran masih terlihat melakukan pemadaman terhadap api yang masih mengeluarkan asap disisa puing-puing bangunan kios dan toko. Kebakaran kali ini, justru lebih besar bila dibanding 7 tahun silam, tepatnya, Minggu (28/10/2007). Kios yang terbakar kali itu akibat arus pendek listrik mencapai 154 kios ludes. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun kerugian mencapai Rp. 5 milyar. Namun jumlah kios terbakar kali ini lebih banyak dibanding sebelumnya, yakni tercatat 600 kios permanen. Itu pun belum termasuk stand non permanen. Kerugian ditaksir mencapai puluhan milyar. Kabid Pendapatan DPPKA Sumenep, Imam Sukandi, mengakui, jika kebakaran di Pasar Anom Baru kali ini cukup besar dan merugikan banyak pedagang. Data sementara saja, kios permanen yang hangus terbakar sekitar 600-an. “600-an kios itu yang masuk katagori permanen. Kalau yang stand non permanen belum terdata semua. Jadi, jumlah itu sifatnya masih sementara. Kerugian ditafsir mencapai puluhan miliar,”kata Drs. H. Imam Sukandi, M.Si, Kamis (06/03). Sementara Ketua Komisi B DPRD Sumenep, Bambang Prayogi, menyarankan agar menggunakan anggaran tak terduga untuk mengatasi kebakaran pasar 2014 ini. “Ini kan peristiwa kebakaran masuk katagori bencana alam. Jadi, pemerintah bisa melakukan tindakan dengan menggunakan anggaran tak terduga,”terangnya. Selain itu, pihaknya juga berharap agar warga tidak selalu menyalahkan pemerintah daerah, dalam hal ini pihak pemadam kebakaran yang dinilai lambat melokalisir api. “Kekuatan pemadam kebakaran itu sudah dilakukan maksimal, tapi memang benar-benar tidak mampu melokalisir api, sehingga ratusan kios ludes. Ini musibah yang patut diambil hikmahnya,”ungkapnya. Ketika kejadian, Bupati Sumenep, KH. A. Busyro Karim dan sejumlah pejabat lainnya serta Kapolres Sumenep AKBP Marjoko turun langsung ke lokasi kejadian. ( Nita,Esha )