Sumenep-Kominfo News Room : Wakil Bupati Sumenep Drs. H. Moch. Dahlan, MM saat membuka acara Workshop on Publik Information dan Education on Nucliar Desalination di Hotel Utami Sumekar, Selasa (28/11) mengatakan, bahwa kegiatan dimaksud adalah memberikan penyuluhan dan pengertian terhadap masyarakat, bahwa nuklir di Indonesia semata hanya untuk kesejahteraan umat manusia, karena Nuklir di Indonesia bukan untuk membuh manusia, yang pelaksanaannya diperkirakan tahun 2015 hingga 20020, itu semua digunakan sebagai alternatif terakhir untuk memperkaya energi di Indonesia khususnya di Kabupaten Sumenep dan Madura. Pada kesempatan yang sama Kepala Pusat Diseminasi Iptek Nuklir (PDIN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), DR. Taswanda Taryo, M.Sc.Eng, menegaskan, bahwa pihaknya dalam hal ini mempunyai misi untuk memberikan masukan kepada Pemerintah terutama kaitannya dengan aplikasi teknologi nuklir untuk kehidupan perdamaian. Adapun kehidupan teknologi itu bermacam-macam, ada untuk makanan, kesehatan, Informasi Teknologi (IT), transportasi juga energi. Yang muaranya untuk memberikan kepada masyarakat seluas-luasnya tentang informasi yang kita peroleh khususnya tentang nuklir. Setiap orang selalu berhubungan dengan radiasi nuklir yang setiap saat ada di sekitar kita, seperti halnya setiap hari kita selalu terkena sinar matahari, ronsen, makanan atau buah yang diimpor dari luar negeri, itu awet, karena menggunakan nuklir. Jadi menurut DR. Taswanda Taryo, M.Sc.Eng, disadari bahwa setiap teknologi mempunyai resiko, namun bila kita mengolahnya dengan baik, nuklir lebih banyak manfaatnya bagi kehidupan masyarakat dari pada mudhoratnya. Sebab di negara yang sudah maju, baik Eropa, Amerika dan Asia, sudah banyak dan sejak lama menggunakan reaktor daya air bertekanan yang biasa disebut dengan PWR. Rektor Universitas Wiraraja (UNIJA) Sumenep, DR. Ir. Ida Ekawati, MP menuturkan, bahwa pihaknya sudah banyak melakukan Desiminasi dibidang pertanian dan peterknakan serta dibidang desalinasi atau merubah air laut menjadi air tawar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan air. Khusus dibidang pertanian, pihaknya sudah mencoba varitas padi Dia Suci yang dapat memproduksi padi 10 ton per-hektar, khususnya yang telah dilakukan petani di Kecamatan Ambunten Sumenep dengan menggunakan teknologi pertanian organik termasuk kedelai. Adapun yang menjadi kendala menurut Ida Ekawati, adalah khusus penangkaran benihnya dan irigasi air, sementara petani sangat antusias sekali, karena jenis padi Dia Suci itu memiliki produksi tinggi dan berasnya rasanya enak, bila dijual harganya mahal, termasuk juga dibidang peternakan untuk penggemukan sapi. ( Soek, Esha )