News Room, Rabu ( 13/08 ) Musim panen tembakau di Madura, khususnya Sumenep selalu menjadi idaman bagi petani maupun masyarakat untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, sehingga tidak ayal mengundang reaksi dari berbagai sektor, baik pengusaha hingga pekerja seks komersial (PSK). Terbukti, memasuki masa panen daun emas ini, para PSK yang datang dari berbagai kota di Jawa Timur "menyerang" Kota Sumenep. Biasanya, mereka sering mangkal di tempat strategis, semisal Taman Adipura di Jalan Trunojoyo, warung remang-remang, terminal, serta rumah-rumah penduduk. Bahkan, untuk kelas elite juga mudah dijumpai di Hotel-hotel. Lokasi itu sudah menjadi rahasia umum, jika Taman Adipura Sumenep menjadi tempat transaksi esek-esek tersebut. Bahkan, 3 rumah warga di Kecamatan Saronggi dijadikan lokalisasi, seperti yang terdapat di Dolly Surabaya. Tempat lain yang juga ditempati PSK, yakni rumah warga yang dekat dengan Wisata Pantai Slopeng dan di Kecamatan Pasongsongan. Salah seorang warga Kecamatan Saronggi, Rafiqi (32) mengaku, setiap kali musim panen tembakau PSK dari luar Madura banyak berdatangan. Jika pada hari-hari biasanya hanya terdapat 3 sampai 4 orang yang ditampung oleh salah seorang germo, namun saat ini hampir 20 PSK ada di Kecamamatan Saronggi. "Lokasi itu dekat dengan lapangan kerapan sapi kok,"kata Rafiqi di rumahnya, Desa/Kecamatan Saronggi, Rabu (13/08). Ia memaparkan, untuk satu kali kencan, para PSK itu hanya mematok harga sebesar Rp. 30.000,00 hingga Rp. 50.000,00 dan masih bisa nego tergantung pada kelihaian lelaki hidung belang saat merayu. Bahkan, bagi yang sudah menjadi langganan akan mendapatkan service yang luar biasa. Menyikapi kondisi semacam itu, anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Badrul Aini meminta aparat penegak hukum terutama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan penertiban, sebab, kehadiran PSK itu mengganggu kamtibmas di daerah yang ditempati, dan bertentangan dengan keinginan warga Sumenep yang mayoritas muslim. "Sebaiknya, hal itu secepatnya ditertibkan, sebelum ada gejolak warga yang mengarah pada tindakan anarkis,â€Âtegasnya. ( Nita, Esha )