Ganding-Kominfo News Room : Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat dan perkembangan pembangunan yang semakin luas dan merata di Indonesia, ketersediaan energi secara nasional harus seimbang dengan kebutuhan masyarakat akan energi. Bahkan untuk mendukung pengembangan industri nasional di masa mendatang diperlukan penyediaan sumber energi yang cukup besar. Ketika masyarakat bingung dengan melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) termasuk minyak tanah yang juga harganya semakin naik dan sering kali langkah didapat oleh masyarakat, ternyata dibalik itu membawa dampak tersendiri bagi kehidupan masyarakat pada umumnya, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Pemanfaatan serbuk kayu dari limbah somil yang mulanya sebagai barang yang tidak berharga di mata masyarakat, namun dengan melalui penggunaan Teknologi Tepat Guna (TTG), sengaja dicoba dilakukan oleh Pria setengah baya, R. Zainal Alim yang kebetulan sebagai salah satu pengurus KIM REGOMA Desa Ketawang Rebbaan Kecamatan Ganding, dijadikan sesuatu yang benilai rupiah dan menjadi salah satu jawaban dari semua itu, utamanya bagi masyarakat yang kurang mampu maupun masyarakat memiliki usaha. Awalnya pria yang selalu memakai kopyah hitam ini, sering melakukan dialog dan bertukar pengalaman dengan seorang temannya yang pernah kontrak kerja di negeri Jiran Malysia. Dari perbincangan itu akhirnya muncul salah satu ide untuk membuat bahan bakar untuk kepentingan memasak yang lebih irit, efektif dan efisien dibandingkan dengan alat bakar yang biasa dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Adapun bahan baku yang dibutuhkan untuk itu adalah cukup dengan menggunakan barang rongsokan, bekas dari tabung Kulkas yang dijadikan sebagai tungku, sementara serbuk kayu dari limbah somil dan sedikit kayu sebagai bahan bakarnya. Sedangkan beberapa kelebihan dan keistimewaan dari hasil penemuan TTG itu dibandingkan dengan kompor yang menggunakan bahan bakar minyak tanah maupun Gas atau lainnya, yang jelas adalah lebih irit. Menurut Zainal cukup Rp. 5.000,00 per bulannya untuk keluarga yang beranggotakan 10 orang, selain itu dapat ditinggalkan tanpa ditunggu dengan mengerjakan kegiatan lain dan lebih mudah dan cepat untuk pemanasan serta lebih sederhana. Hasil penemuan TTG itu kemudian diketahui oleh banyak orang dan hingga saat ini tidak sedikit orang mencoba dan memesannya, baik masyarakat di desa sekitar rumahnya maupun masyarakat dari luar daerah, seperti Kecamatan Guluk-Guluk, Pragaan dan Kecamatan Pakong Pamekasan. Bagi mereka yang membutuhkan tungku itu cukup menyediakan uang sebesar Rp. 50.000,00 hingga Rp. 60.000,00. (Soek, Esha)