Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 05-01-2006
  • 1263 Kali

SEKITAR 2.000 ORANG HILANG, KORBAN TEWAS DI JEMBER MENCAPAI 113 ORANG

Sumenep-Infokom News Room : Hingga hari Rabu (04/01) siang kemarin, Posko Penanggulangan Bencana di Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Jember, mencatat sekitar 113 orang korban tewas yang sudah dievakuasi. Jumlah ini dikhawatirkan akan terus meningkat karena jumlah korban hilang yang belum dapat ditemukan sampai pukul 11.30 WIB kemarin sudah mencapai 2.000 orang. Sampai kemarin malam, jumlah korban tewas yang tercatat mencapai 64 orang. Selanjutnya, setelah tim penyelamat menambah tenaga baru berupa satu Peleton Yonif 501 Brawijaya dan satu Satuan Brimob, pagi kemarin dievakuasi lagi korban tewas sebanyak 49 orang, sehingga total korban tewas yang sudah dievakuasi mencapai 113 orang. Selain korban tewas, tim juga sudah mengevakuasi 1.200 korban, termasuk yang luka-luka, dari lokasi bencana. Upaya evakuasi korban tak mudah dilakukan, karena lokasi-lokasi kejadian kebanyakan terputus akibat jembatan rusak. Hal itu membuat daerah-daerah itu terisolir. Daerah-daerah itu adalah Abdiling (pemukiman) Delima, Bunot, Gunung Pangkas, Kaliputih dan Keputren yang semuanya masuk wilayah Desa Kemiri, Panti, Jember. Hingga pagi kemarin, ratusan korban yang masih belum dievakuasi adalah mereka yang berada di Abdiling Gunung Pangkas dan Kaliputih. Di lokasi tersebut terdapat karyawan dari PDP (Perusahaan Dinas Perhutani) Jember. “Di Abdiling Gunung Pangkas penduduknya paling banyak. Ada kalau 200 jiwa, tapi sampai sekarang belum satupun bisa dievakuasi,� terang AKP Sujatmiarko, Kapolsek Panti Jember saat ditemui di lokasi penampungan korban, pagi kemarin. Kekhawatiran masih banyaknya korban yang belum ditemukan dibenarkan Kapolsek. Kemungkinan besar masih banyak korban hilang yang berada ditimbunan bangunan yang hancur,“ tukas AKP Sujatmiarko. Sedangkan sebanyak 2 ribu korban yang berhasil dievakuasi dari lokasi bencana sudah ditempatkan di kamp-kamp pengungsian di daerah Rambirejo Kecamatan Panti. Lokasi ini dipilih karena posisinya yang berada di dataraan tinggi dan dianggap aman. Mereka ditempatkan di tenda-tenda darurat, Kantor Kepala Desa dan Masjid-masjid. Untuk mengantisipasi kondisi kesehatan, tim dokter dari Rumah Sakit Daerah Dr. Subandi Jember sudah siap siaga. Mereka membawa obat-obatan yang dipergunakan mencegah wabah diare. Dimana sebagian pengungsi, terutama anak-anak sudah terkena. Menurut, pakar lingkungan, Dr. Suparto Wijoyo, SH, M.Hum mengatakan, bencana banjir bandang di Jember itu bukanlah bencana alam yang datang dari Tuhan. Tetapi, bencana ini merupakan bencana akibat ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat. ( SR, Esha )