News Room, Rabu (06/02) Naiknya harga pakan ayam dipasaran yang mencapai Rp. 210.000,00 per-50 kilogram dari harga Rp. 160.000,00, berdampak buruk bagi peternak ayam petelur, sebab dengan kondisi semacam itu sekitar 10 peternak ayam di Desa Karang Cempaka Kecamatan Bluto terpaksa gulung tikar. Menurut salah seorang peternak ayam petelur, Rosi (35) warga Desa Karang Cempaka, faktor utama yang membuat peternak ayam petelur sebagian besar harus gulung tikar, selain semakin mahalnya harga pakan ayam, tapi juga ditopangi oleh turunnya harga telur yang mencapai Rp. 520,00 per-butir, padahal sebelumya harga telur per-butirnya antara Rp. 580,00 hingga Rp. 600,00. Rosi mengaku, bahwa naiknya harga pakan ayam itu tidak sesuai dengan harga penjualan telur ayam, sehingga mayoritas peternak ayam petelur gulung tikar. Namun Rosi tetap nekat meneruskan usahanya, meski hasil penjualan telurnya tidak mencukupi terhadap biaya pemeliharaan ayamnya. Rosi menerangkan, menghadapi situasi seperti saat ini dirinya juga terkena imbasnya, yakni ia terpaksa harus mengurangi jumlah ayam yang diternak, dari 2.000 ekor ayam menjadi 1.000 ekor ayam. Walaupun harga pakan naik dan harga telur turun, dirinya tidak akan putus asa mengelola usahanya, karena usaha tersebut merupakan usaha turun temurun dilingkungan keluarganya. Sementara itu, Kepala Kantor Peternakan Kabupaten Sumenep, Ir. Edy Sutrisno mengatakan, belum mengetahui kondisi peternak ayam petelur tersebut. Karena itu, pihaknya berjanji, akan segera melakukan pemantauan ke lapangan terkait keberadaan peternak ayam petelur. Sutrisno berharap kepada para peternak ayam petelur, agar bersabar dan berusaha mempertahan usahanya agar tidak gulung tikar, karena pihaknya yakin kondisi semacam ini tidak akan berlangsung lama. ( Nita, Esha )