News Room, Jum’at ( 07/05 ) Krisis air bersih di Desa Sakala Kecamatan Sapeken sejak 3 tahun terakhir, ternyata tidak hanya dialami oleh sebagian warga yang jauh dari sumur. Namun, hampir seluruh sumur di Desa Sakala yang selama beberapa tahun sebelumnya sudah menjadi kebutuhan warga, dalam 3 tahun ini rasanya menjadi asin dan tidak enak untuk diminum. Hal tersebut diungkapkan anggota DPRD asal kepuluan Dulsiam, M.Pd ketika ditemui News Room di kantornya tadi siang Jum’at (07/05). Menurutnya, selaam 3 tahun masyarakat mengeluhkan adanya air sumur yang sudah tidak enak lagi seperti sebelumnya. Dan keanehan itu tidak diketahui penyebabnya, karena selama puluhan tahun masyarakat sudah biasa minum dan menggunakan segala keperluan rumah tangga. “Bagi yang punya uang, jalan keluarnya bisa beli air minum mineral dan membeli air keluar pulau Sakala dengan harga sekitar Rp. 6.000,00 setiap jerigen. Namun bagi yang tidak mampu, terpaksa harus merasakan nikmatnya air asin setiap hari,â€Âujarnya. Karena itu Dulsiam berharap instansi terkait agar mencari solusi alternatif terkait dengan persoalan yang terjadi di Desa Sakala ini. Jika memungkinkan bisa menganggarkan proyek air bersih dengan kedalaman yang memungkinkan untuk menghasilkan air bersih. Dijelaskan, politisi asal PKB ini, menurut pengakuan para perangkat Desa disana, mereka juga sudah mengadukan persoalan tersebut ke Bappeda Sumenep. Bahkan dari Bappeda sendiri sudah ada konfirmasi akan datang ke Desa Sakala pada bulan Juni mendatang. “Masyarakat senang dengan respon Bappeda Sumenep untuk melakukan kunjungan langsung ke Desanya, semoga nantinya akan ada solusi, sehingga masyarakat dapat menikmati air bersih seperti biasanya.â€Âpungkasnya. ( Ren, Esha )