Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 20-04-2015
  • 460 Kali

Sebanyak 35.000 Warga Miskin Di Sumenep Belum Terima PSKS

News Room, Selasa ( 21/04 ) Sebanyak 35 ribu warga miskin di Sumenep, belum menerima dana  Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) yang merupakan kompensasi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk tahap kedua.

Kepala Kantor POS Sumenep, Suhartono Anton Sujarwo menjelaskan, realisasi PSKS tahap kedua untuk di Sumenep dimulai sejak tanggal 11 hingga akhir April ini. Realisasinya sekarang sudah mencapai 85.000 atau 75 persen dari 115.999 penerima.

"Jadi, masih tersisa 35.000 lebih warga miskin yang belum menerima dana PSKS tersebut," kata Anton, Selasa (21/04).

Besaran realisasi dana PSKS tahap kedua senilai Rp. 600.000,00 untuk tiga bulan yakni Januari-Maret 2015. Ditargetkan, realisasi program kompensasi kenaikan BBM ini tuntas hingga akhir bulan April ini, hanya saja untuk Kecamatan/kepulauan Sapeken ditunda karena masih menunggu selesainya kunjungan Bupati yang dijadwalkan akhir bulan April ini.

"Karena ada permintaan dari kades se-Sapeken untuk realisasi PSKS ditunda, ya kami ikuti saja. Tidak mungkin kami merealisasikan program ini tanpa keterlibatan kades," terangnya.

Anton mengungkapkan, realisasi PSKS untuk tahap kedua hampir selesai. Di wilayah daratan ada dua Kecamatan yakni Bluto dan Batuputih dan Kepulauan yakni Kangean, Gayam, dan Masalembu sedang berlangsung pembagian PSKS Selasa (21/04) ini. Sedangkan untuk Kecamatan Raas kami jadwalkan tanggal 24 sampai 25 April 2015.

"Lima Kecamatan yang sedang berlangsung realisasi PSKS hari ini, baik daratan maupun kepulauan. Kami perkirakan akan tuntas hari ini juga," ungkapnya.

 Ia memaparkan, untuk di kepulauan ada beberapa kendala teknis diantaranya masih banyak yang belum memiliki KTP dan secara geografis memang membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding wilayah daratan.

"Kalau penerima yang tidak memiliki KTP bisa diganti dengan surat pengganti KTP yang diketahui petugas. Tapi menyangkut waktu ini yang tidak bisa diprediksi karena wilayahnya memang beda dengan di daratan," pungkasnya. ( Nita/Fer )