News Room, Kamis ( 10/10 ) Di musim kemarau tahun ini, sebanyak 126 warga di Sumenep mulai menderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Selama dua bulan terakhir ini, jumlah penderita ISPA terus bertambah, jika pada Agustus lalu hanya 44 penderita, tapi selama bulan September kemarin bertambah menjadi 84 penderita. Kepala Bidang Rekam Medik Rumah Sakit Daerah (RSD) Sumenep, Hadianto, menjelaskan, virus ISPA ini memang menyerang kekebalan tubuh manusia disaat cuaca tidak menentu (cuaca panas tapi tiba-tiba dingin). “Berdasarkan catatan di RSD Sumenep, ada 126 penderita yang masuk ke rumah sakit. Itu merupakan jumlah penderita selama dua bulan, yakni Agustus sebanyak 44 penderita dan September sebanyak 84 penderita,” katanya. Ia memaparkan, ratusan penderita ISPA itu berasal dari Kecamatan pinggiran dan sebagian besar rawat jalan, karena proses penyembuhannya relative mudah. “Kami mendeteksi penderita tersebut di luar Kecamatan Kota Sumenep. Daya tahan tubuh tidak maksimal sehingga mudah diserang virus ISPA,” terangnya. Secara garis besar, lanjut Hadianto, pemicu virus ISPA adalah virus rhinovirus, respiratory syncytial virus, dan adenovirus. “Penyakit ini sering muncul pada musim pancaroba akibat sirkulasi virus di udara yang meningkat. Selain itu, perubahan udara dari panas ke dingin seringkali memperlemah daya tahan tubuh anak. Akibatnya, mereka pun menjadi lebih rentan terhadap penyakit tersebut,” ungkapnya. Ia juga mengungkapkan, gejala yang ditimbulkan mulai dari demam, nyeri tenggorokan, pilek dan hidung mampet, batuk kering dan gatal, batuk berdahak, dan bahkan bisa menimbulkan komplikasi seperti pneumonia (radang paru) dengan gejala sesak napas. “Kami menghimbau kepada masyarakat Sumenep, agar waspada terhadap gejala ISPA ini. Sekalipun tergolong penyakit ringan, tapi kalau dibiarkan bisa menimbulkan komplikasi radang paru,” pungkasnya. ( Nita, Fer )