Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 28-01-2006
  • 496 Kali

SEBANYAK 10 RIBU POSYANDU PRATAMA DIAKTIFKAN

Sumenep-Infokom News Room : Sekitar 10 ribu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Pratama yang ada di Jawa Timur akan diaktifkan kembali guna meningkatkan pelayanan kesehatan Keluarga Berencana (KB), Ibu dan Anak dan menekan jumlah pertumbuhan penduduk. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, dr. Bambang Giatno, R MPH ketika ditemui di Kantornya Jl. A. Yani Surabaya kemarin, Jum’at (27/01) mengatakan, rencana mengaktifkan Posyandu ini masih dalam tahap pengembangan. “Posyandu Pratama artinya Posyandu yang masih dalam tahap pengembangan, karena belum lengkap peralatan, sarana dan prasarana serta Sumber Daya Manusia (SDM)-nya. Karena belum lengkap inilah, maka akan dikembangkan agar menjadi lengkap menjadi Posyandu,� ujar Bambang. Bekerjasama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Timur, Dinas Kesehatan Jawa Timur akan melaksanakan hal itu tahun ini dengan anggaran sebesar Rp. 2,4 miliar untuk revitalisasinya. “Perlu kita ketahui, sejak tahun 2000 hingga dilaksanakannya Undang Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, peserta program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia khususnya Jawa Timur menurun drastis, karena lembaga-lembaga seperti BKKBN di daerah-daerah jumlahnya berkurang bahkan bubar�. ujarnya. Meskipun masih ada, tegas Bambang, lembaga tersebut merjer atau digabung dengan Dinas lain, sehingga perannya sebagai lembaga yang bertanggung jawab pada masalah pertumbuhan penduduk tidak berfungsi, akibatnya, jumlah pertumbuhan penduduk meningkat tajam dan tak terkendali. Disamping itu, pelayanan kesehatan ibu hamil, balita dan anak, kurang dapat ditangani dengan baik. Akibatnya banyak terjadi penyakit anak seperti polio, busung lapar dan kurang gizi. Bambang mengharapkan, apabila BKKBN dan Posyandu sudah dapat ditata kembali seperti sebelum adanya reformasi, pertumbuhan plenduduk di Jawa Timur kemungkinan bisa menurun hingga mencapai angka 0,7 prosen pertahunnya. ( HB, Esha )