Media Center, Selasa ( 04/02 ) SDN Pangarangan VII memiliki kiat tersendiri dalam memupuk akhlakul karimah. Para siswa sejak dini mulai dibangun akhlaknya dengan tidak melepaskan tradisi atau kearifan lokal.
Setiap pagi sebuah pemandangan di sekolah yang terletak di Jalan Lontar, Desa Pangarangan, Kecamatan Kota ini begitu menarik perhatian. Bukan soal salaman pada guru, karena hal itu bisa jadi sudah biasa.
Yang menarik ialah salam sungkem para siswa siswi sebelum masuk kelas. Yaitu dengan mengatupkan kedua belah tangan terlebih dulu, sebelum kemudian mencium punggung telapak tangan sang guru.
“Salam sungkem merupakan tradisi Sumenep yang mulai luntur. Karena umumnya sudah tidak lagi diwariskan di kalangan generasi sekarang,” kata Kepala SDN Pangarangan VII, Muhammad Hadiyanto, S.Pd.SD.
Oleh karena itu, Hadiyanto berupaya untuk menghidupkan kembali kearifan lokal, dan memulainya sebelum kegiatan belajar mengajar di sekolah yang dipimpinnya. Hal tersebut juga menurutnya sudah dibahas bersama para guru. “Alhamdulillah, para guru mendukung,” katanya.
Dan benar saja, meski baru saja berjalan di kepemimpinan Hadiyanto, kebiasaan tersebut memang mendapat respon positif dari para guru sekaligus para siswa siswi.
“Senang sekali saat ini, ketika murid ketemu guru salam sungkem. Anak-anak juga senang menerapkannya,” kata Nurul Hidayat, salah satu guru di SDN Pangarangan VII. ( Han, Fer )