Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 02-12-2008
  • 640 Kali

Salah Jahit, Hidung Rasidi Tak Berfungsi

News Room, Selasa (02/12) Gara-gara salah jahit, Moh. Rasidi (15), Warga Desa Torjek, Kecamatan Kangayan, terpaksa tidak bisa bernafas normal. Jahitan di hidung sebelah kiri yang dilakukan tenaga medis Puskesmas setempat, menyumbat saluran pernafasannya. Sehingga, tindakan tenaga medis ini diduga mal praktek. Menurut paman korban Moh. Sawi (52), warga setempat, kejadian tersebut terjadi 3 bulan lalu, ketika korban jatuh dari pohon asam. Saat itu, wajah korban berlumuran darah. Bahkan, ketika masih di lokasi, lukan di hidung sebelah kirinya dianggap parah. Sehingga, pihaknya langsung memanggil tenaga medis Puskesmas setempat, untuk menjahit hidung korban yang diduga nyaris patah. “Tapi ternyata, setelah dijahit, hidung korban sebelah kiri malah tidak berfungsi,” terangnya. Dengan kondisi yang semakin memprihatinkan, maka pihaknya berusaha menghubungi tenaga medis yang menjahit korban. “Namun, yang bersangkutan mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Justru, menyuruh kami membawanya ke rumah sakit,” ujarnya. Sawi menjelaskan, meski dengan uang pas-pasan, akhirnya ia bersama Rasidi nekat mendatangi RSD Sumenep. Setibanya di rumah sakit pada Selasa (02/12) pagi, lagi-lagi tenaga medisnya mengaku tidak mampu menangani persoalan ini. Sebab, korban harus dioperasi, dan fasilitas RSD Sumenep belum memadai untuk melakukan operasi pembuatan lubang hidung. “Kami kan orang miskin, mana mungkin bawa Rasidi ke rumah sakit di Surabaya. Saya cuma pamannya saja. Jadi, Rasidi saya bawa pulang dulu ke Kangean, untuk membicarakannya dengan ibunya. Sebab, ayah korban sudah tidak ada, semenjak pamit mau merantau ke negeri seberang, sampai sekarang ia tidak pernah pulang,” tuturnya. Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, dr. Susianto, membantah, bahwa itu bukan mal praktek, tapi diduga kurang rapi proses penjahitan. Bahkan, pihaknya juga menduga, itu akibat timbulnya koloid. “Koloid itu timbul, karena digaruk. Sehingga, ada gundukan daging di kulit yang dijahit. Akibatnya, lubang hidung tersumbat,” katanya. Ia menjelaskan, kondisi tersebut bisa diatasi dengan disuntik anti koloid dan dibuatkan lubang. Karena itu, pihaknya berharap kepada Puskesmas setempat, agar membantu yang bersangkutan meski tidak masuk dalam jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). “Kami berjanji, akan membantu biaya operasi dengan menggunakan anggaran di APBD. Asalkan, ada keterangan tidak mampu, mulai dari Puskemas, aparat desa dan Kecamatan setempat,” tegasnya.(Nita, Adjie)