News Room, Senin ( 15/02 ) Hari ini, sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalianget, merupakan dimulainya puncak musim hujan. Hal ini dinyatakan Prakirawan BMKG Kalianget, Endriyono, pada Media Center, Senin (15/02).
"Ya, sesuai prediksi di dekade kedua bulan ini adalah puncak musim hujan wilayah Sumenep dan sekitarnya, " kata Endriyono.
Sekitar sejak satu bulan sebelumnya, BMKG Kalianget melalui Endriyono, dalam rilisnya memperkirakan puncak musim hujan untuk wilayah Sumenep jatuh pada dasarian atau sepuluh hari kedua di bulan ini, alias mundur satu dekade. Hal itu disebabkan terjadi fenomena alam yang tidak biasa akibat aktifnya kembali el-Nino awal tahun ini.
Menurut Endriyono kala itu, normalnya puncak musim hujan di Sumenep jatuh pada dekade satu di bulan Februari dalam setiap tahunnya. Namun karena dampak el-Nino, puncak musim hujan saat ini diperkirakan akan terjadi di antara hari-hari pada dasarian kedua bulan ini.
Dijelaskan juga oleh Endri, daerah Sumenep memiliki jenis pola curah hujan type monsunal. Yaitu keadaan di mana terjadi satu puncak dan satu lembah dalam setiap musim setiap tahunnya. "Sedangkan yang dimaksud puncak musim hujan adalah jumlah hujan tertinggi dalam satu tahun itu sendiri," imbuhnya.
Mengenai jumlah curah hujan di puncak musim hujan, menurut Endri tidak ada batasan yang baku, tetapi mengacu pada jumlah normal curah hujan dalam masa setahun tersebut. Sedangkan kecepatan arah angin pada puncak musim hujan menurut Endri masih di kisaran 5 sampai dengan 40 kilometer perjam.
"Masih sama (kecepatan angin; red), bedanya kecepatan angin di puncak musim hujan bertambah jika ada pertumbuhan awan cumulonimbus. Jadi tetap harus waspada, seperti tinggi gelombang untuk di perairan, juga potensi banjir, karena merupakan rentetan," tutupnya. ( Farhan, Fer )