News Room, Kamis ( 11/02 ) Situs pemandian sumber Taposan di Kampung Taposan, Desa Lalangon, Kecamatan Manding, dipugar. Pasalnya, situs yang memiliki benang merah dengan salah satu raja Sumenep, Panembahan Sumolo tersebut mengalami kerusakan pada dinding-dinding yang menutupi area pemandian sekaligus dinding pembatas antara kaum pria dan perempuan, akibat lama tidak dirawat.
Pemugaran sendiri dilakukan oleh H. Kurniadi selaku warga asal sekaligus keturunan langsung Kiai Taposan alias Kiai Baghdi, yang menjadi cikal bakal adanya sumber alias mata air bersejarah tersebut.
"Saya merasa terpanggil untuk memperbaikinya. Jadi murni karena ingin melestarikan peninggalan bersejarah yang tidak banyak diketahui warga Sumenep ini agar tidak punah,"kata H. Kurniadi, pada Media Center, di sela-sela proses pemugaran, Kamis (11/02).
H. Kurniadi kemudian bercerita, bahwa sekitar abad 18 silam, di suatu waktu Panembahan Sumolo melakukan perjalanan dengan melewati perbukitan di Desa Lalangon. Hingga suatu saat, salah satu putri beliau yang turut serta merasa haus, ingin minum. Namun, persediaan air minum yang dibawa sudah habis.
“Kemudian Panembahan Sumolo bertitah pada abdinya untuk mencari air. Namun memang di sini waktu itu tidak ada perumahan penduduk. Cumadi puncak bukit ada orang yang bertapa, yaitu Kiyai Baghdi itu,”cerita H. Kurniadi.
Hamba keraton yang dititah Sang Nata tersebut lalu menanyakan apakah ada sumber air di tempat tersebut. Dijawab oleh Kiyai Baghdi dengan turun dan menemui Panembahan Sumolo. Lalu di hadapan Raja, Kiyai Baghdi menancapkan tongkatnya ke tanah 2 kali, dan menyemburlah air jernih.
Tancapan tongkat yang pertama air yang menyembur hanya ‘sataposan’ atau satu tegukan minum. Baru di tancapan tongkat ke dua air keluar tanpa henti, sehingga putri Raja dan seluruh rombongan keraton bisa minum.
“Nah, saat itulah kemudian Panembahan Sumolo berkata, bahwa mata air tersebut diberi nama Taposan. Dari kata ‘sataposan’ itu, kata H. Kurniadi.
Kemudian raja, menurut H. Kurniadi juga berkata, bahwa mata air itu hanya bisa mengaliri kampung Taposan. Artinya, jika dicoba dialirkan ke luar kampung, air tersebut tetap tidak bisa keluar dari batas kampung Taposan.
“Waktu lampau ada yang mencoba membuat irigasi melalui sumber Taposan, ke kampung-kampung lain. Namun, tidak bisa alias berhenti mengalir. Padahal air sumbernya banyak,”pungkasnya. ( Farhan, Esha )