Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 27-01-2010
  • 891 Kali

Rumput Laut Membusuk Diduga Tercemar Minyak PT. KEI

News Room, Rabu ( 27/01 ) Sekitar 2.000 tali budidaya rumput laut di seluruh Desa/Pulau Sasiel, Kecamatan Sapeken, membusuk dan gagal panen. Kondisi ini diduga akibat adanya kebocoran minyak dari perusahaan Kangean Energy Indonesia (KEI) Ltd, saat proses pemindahan minyak berat ke kapal penampungan di Perairan Sepanjang, Sapeken. Salah seorang warga Desa/Pulau Sasiel, Bayu Samudera, mengatakan, sebenarnya sejak dua bulan lalu warga sudah merasa resah, karena rumput laut yang ditebar di 2.000 tali di Perairan Sasiel tidak ada perkembangan setiap bulannya. “Semestinya rumput laut itu sudah panen sejak akhir Desember 2009 hingga bulan Januari 2010. Tapi, ternyata rumput laut membusuk, sehingga gagal panen. Kami meyakini, air laut sudah tercemar degan limbah minyak perusahaan KEI,”terang Bayu, ketika dihubungi melalui telepon genggamnya, Rabu (27/01). Hal serupa juga disampaikan salah seorang anggota DPRD Sumenep asal Pulau Sapeken, Dul Siam. Kebocoran itu terjadi ketika pemindahan minyak melalui pipa dari perusahaan KEI ke kapal tanker. “Saat pemindahan itulah terjadi kebocoran pada pipa, sehingga perairan Sepanjang hingga Sasiel, Sapeken tercemar limbah minyak. Bentuk limbah minyak itu seperti gumpalan aspal,” kata Dulsiam, pada wartawa dikantor dewan Sumenep, Rabu (27/01). Ia menjelaskan, gumpalan minyak mentah tersebut tersebar di Pulau Sasiel. Hingga saat ini, warga masih mengeluh dan kuatir ekologi laut terus tercemar bila tidak cepat diantisipasi. Sebab, banyak ikan yang mati dan menjauh, akibatnya nelayan sulit memperoleh ikan di perairan tersebut. Sementara, Anggota Komisi B DPRD Sumenep, Darul Hasyim berjanji akan melakukan komunikasi dengan pihak perusahaan KEI Ltd. “Besar atau kecil dampak ekologi itu tetap harus dilakukan antisipasi dan dicarikan solusi. Ini tidak bisa dibiarkan. Untuk itu, kami akan secepatnya melakukan komunikasi dengan Tim Community Development (Comdev) yang ada di Pulau Sapeken,”ungkapnya menegaskan. Darul juga mengatakan, kondisi ini perlu pananganan serius, karena dampaknya langsung bersentuhan dengan mata pencaharian masyarakat Pulau Sepanjang dan Sasiel. “Ancaman yang akan terjadi akibat dampak ekologi perusahaan KEI itu, seperti halnya Ekosistem laut dan rumput laut akan rusak, serta ikan banyak yang mati,”ujarnya menambahkan. ( Nita, Esha )