Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 02-05-2009
  • 513 Kali

Renungan Hardiknas 2009, Dalam Konsep Evaluasi Pendidikan

News Room, Sabtu ( 02/05 ) Momentum Hari Pendidikan Nasional (Harkitnas) 2009, yang jatuh pada hari ini hendaknya dijadikan perenungan dan evaluasi bagi pelaksana dan pengambil kebijakan pendidikan. Yakni, bagaimana berpikir untuk semakin meningkatkan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara menjadi masyarakat yang cerdas dan bermoral. Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi D DPRD Sumenep, Drs. H. Kamalil Ersyad, M.Pd di kantornya, Sabtu(02/05). Sebab, menurut politisi asal PKB ini, yang paling penting dalam pelaksanaan pendidikan adalah bagaimana mencetak kader bangsa yang intelektual dan bermoral. “Percuma, jika pelaksanaan pendidikan baik, namun tidak ditunjang dengan moralitas yang baik pula, maka dikhawatirkan malah menjadi bumerang bagi nilai-nilai luhur bangsa,”ujar H. Kamalil Ersyad. Ditambahkan, persoalan pencanangan pendidikan gratis yang masih dalam wacana. Sebaiknya harus benar-benar memiliki konsep yang jelas dari sisi realisasi. Sebab, jika tidak, maka program tersebut hanyalah akan menjadi sebuah konsep tambal sulam. Bahkan menurutnya, ketika mengikuti work shop pendidikan gratis yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur beberapa waktu lalu. Ternyata pendidikan gratis itu masih dalam rencana strategis (Renstra) yang belum memiliki konsep yang jelas. Sebab, dalam pelaksanaan pendidikan gratis yang sudah berjalan sekarang ini, masih terjadi multi tafsir dari masing-masing lembaga pendidikan. Salah satu sisi dana bantuan sudah ada, namun disisi lain masih membutuhkan tambahan, yang akhirnya masih harus melakukan pungutan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di lembaga itu. Sementara untuk Kabupaten Sumenep, H. Kamalil Ersyad mengaku masih perlu dilakukan evaluasi dan pembinaan, khususnya pada sisi kinerja pelaksana pendidikan di kepulauan yang masih banyak ditemukan kurang disiplin. Selama itu belum dilakukan perbaikan, maka rasa pesimis pendidikan di Sumenep berjalan dengan baik. Seperti yang terjadi di SD Negeri kepulauan Raas, semua siswanya pindah ke Madrasah Ibtidaiyah (MI), karena Kepala Sekolah dan gurunya tidak pernah masuk. ( Ren, Esha )