News Room, Sabtu ( 06/10 ) Rencana penyatuan zona waktu di Indonesia tidak akan terealisasi dalam waktu dekat. Awalnya, hal tersebut akan dimulai pada 28 Oktober 2012. Namun, Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa memastikan bahwa pemberlakuan satu zona waktu, mundur dari jadwal, karena pembahasannya belum matang. “Saya tidak berani mengatakan tahun ini atau tahun depan,” ujarnya kemarin (05/10). Pemerintah berencana menyatukan 3 zona waktu di Indonesia, yakni Watu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (Wita), dan Waktu Indonesia Timur (WIT). Nah, 28 Oktober dipilih, karena bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda yang menyatukan Indonesia. Rencananya, 3 zona waktu tersebut mengikuti zona Wita. Misalnya, jika saat ini di WIB pukul 09.00, di Wita pukul 10.00, WIT pukul 11.00. Dengan penyatuan zona waktu, semua wilayah di Indonesia akan mengikuti zona Wita, yakni pukul 10.00. Itu berarti, Indonesia berada di zona waktu yang sama dengan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Hatta mengatakan, saat ini pengkajian rencana penyatuan zona waktu terus dilakukan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), serta Kementerian Riset dan Teknologi. “Kalau institusi rata-rata mendukung dan makin banyak dukungan kearah itu,”ucapnya. Menurut Hatta, keputusan penyatuan zona waktu ada di tangan Presiden. Karena itu, pembahasannya dibawa ke sidang kabinet. Jika memang dalam prosesnya nanti menimbulkan pro-kontra dan banyak yang tidak setuju, rencana tersebut bisa dibatalkan. Kepala Divisi Humas dan Promosi Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI), Edib Muslim mengatakan, penyatuan zona waktu, akan memberikan banyak manfaat bagi perekonomian. “Manfaat ini yang harus disosialisasikan ke semua kalangan,”ujarnya. KP3EI adalah salah satu pihak yang mengusulkan penyatuan zona waktu dimulai 28 Oktober 2012 mendatang. Menurut Edib, penyatuan zona waktu dapat mendorong produktivitas, sehingga meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 20 persen. “Akan ada angkatan kerja sekitar 190 juta orang yang melakukan pekerjaan secara bersama-sama,”ucap dia. ( JP, Esha )