News Room, Rabu ( 27/04 ) Kecintaan pada pusaka yang berbentuk senjata tradisional seperti keris dan golok kembali hidup di Sumenep. Setelah sempat tenggelam di desak fenomena demam batu akik, para kolektor pusaka hampir tidak menunjukkan aktivitas sama sekali.
“Semacam alih profesi sementara. Ikut arus,” kata salah satu kolektor dan pecinta pusaka di Sumenep, Deny Fahrurrazi sambil tertawa, pada Media Center.
Hidupnya lagi aktivitas pusaka menurut Deny merupakan suatu hal yang sangat bagus. Karena di Sumenep, budaya ini sudah hampir terkikis. Padahal dulu, pusaka merupakan benda sakral dan syarat dengan makna positif. Membawa dan memiliki pusaka juga menjadi tradisi yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan keseharian.
“Tapi bukan untuk gagah-gagahan apalagi untuk dijadikan alat melukai orang,” kata Deny.
Membawa pusaka atau nyongkel atau nyekep merupakan tradisi orang-orang kuna di Sumenep. Pusaka diyakini merupakan perantara keselamatan dan pembawa perdamaian. Dalam ilmu pamor, makna pusaka beragam, bisa sebagai perantara rejeki, penolak bala, dan lain sebagainya.
“Makanya ada yang namanya pamor tundung musuh,” jelas Deny.
Hidupnya aktivitas pusaka juga menurut Deny, kabarnya didukung oleh pemerintah daerah melalui Disbudparpora yang bekerja sama dengan pihak kepolisian, menerbitkan surat ijin membawa pusaka. Namun hingga berita ini diturunkan, Media Center masih belum bisa menemui Kabid Kebudayaan Disbudparpora, Sukaryo. ( Farhan, Fer )