Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 13-11-2010
  • 425 Kali

Pupuk Bersubsidi, Kini Banyak Menumpuk Di Gudang

News Room, Sabtu ( 13/11 ) Penyerapan pupuk bersubsidi dari pemerintah di Kabupaten Sumenep hingga bulan Nopember 2010 ini ternyata masih banyak menumpuk di gudang. Sebab, para petani sepertinya masih enggan melakukan pembelian pada kios maupun distributor pupuk yang tersebar dibeberapa Kecamatan di Sumenep. Salah seorang anggota Komisi B DPRD Sumenep, Sanhaji Darmaji menilai, belum ditebusnya jatah pupuk bersubsidi oleh para petani, pada musim tanam sebelumnya banyak yang gagal panen. Apalagi, pada musim tanam tembakau, malah banyak yang tidak tanam karena cuaca kurang bersabahat. “Kemungkinan nanti pada akhir bulan Desember 2010 hingga Januari 2011 mendatang hujan, biasanya petani memulai musim tanamnya,”ujar politisi asal PKB ini. Mengenai kwalitas pupuk, meskipun lama menumpuk di gudang, jika hanya setahun menurut anggota Dewan yang juga pengusaha ini, masih tetap aman. Hanya saja, persoalannya, ketika pupuk tidak terserap kepada petani, berarti produksi pertanian di Sumenep otomatis juga semakin menurun. Sementara Kepala Bidang Sumber Daya dan Penyuluhan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep, Ir. Kurratul Aini juga mengungkapkan, penumpukan pupuk tidak hanya terjadi di gudang resmi pupuk bersubsidi, namun di beberapa distributor untuk stok pupuk musim tanam sebelumnya juga banyak yang belum terjual kepada petani. “Meskipun dalam 2 hingga 3 bulan kedepan, petani tetap banyak yang membutuhkan pupuk untuk musim tanam berikutnya, namun kemungkinan tetap akan terjadi kelebihan seperti tahun lalu,”ujarnya. Kondisi tersebut memang berbalik dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya yang malah terjadi kelangkaan pupuk dimana-mana. Namun, dalam 2 tahun ini justru terjadi kelebihan pupuk. Karena, tingkat daya beli petani kurang, diakibatkan cuaca tidak stabil. Pihaknya berharap para petani tetap berupaya memilih tanaman yang cocok untuk ditanam dimasing-masing daerah. Sebab, masing-masing daerah memiliki potensi pertanian yang berbeda. Serta, tidak harus menggantungkan terhadap salah satu tanaman tertentu, tapi terus mencari tanaman alternatif yang bisa dikembangkan. ( Ren, Esha )