Media Center, Rabu (09/06) Badai pandemik mulai mereda.
Setelah sempat tertunda tahun 2020 kemarin, akhir bulan Mei 2021 lalu, Balai
Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta (Balar DIY) kembali memberangkatkan tim
penelitinya menuju Pulau Kangean yang terletak di sebelah timur Pulau Madura,
Provinsi Jawa Timur. Penundaan itu sejatinya hanya dalam kegiatan penelitian
lapangannya, dan digantikan dengan desk study di tahun 2020.
Dari penjelasan Ketua Tim, Alifah, tujuan pemberangkatan tim
peneliti dari Balar DI Yogyakarta ke Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep ini
adalah untuk melakukan penelitian terkait keberadaan “Pulau-Pulau Kecil di
Utara Jawa Dalam Arus Migrasi Masa Praaksara”.
“Penelitian tahun ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari
penelitian-penelitian tahun sebelumnya yang telah dilaksanakan pada pada tahun
2018 dan 2019,” tuturnya.
Anggota tim berjumlah 11 orang, dan terdiri dari beberapa
unsur yang sudah ahli di bidangnya.
Karena masih dalam kondisi pandemik, anggota tim ini kemudian dipisah keberangkatannya
menjadi 2 tim.
“Tim 1 merupakan tim yang fokus pada kegiatan ekskavasi
untuk memperoleh data penguat dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya. Tim ini diberangkatkan pada Senin tanggal 31 Mei 2021 dari
pelabuhan Kalianget menuju ke pelabuhan Batuguluk Pulau Kangean,” jelas Alifah
pada Media Center.
Tim 1 berangggotakan 7 orang yang terdiri dari 5 orang
Peneliti Balar DIY dan 1 orang dari unsur Anggota IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi
Indonesia), ditambah 1 orang lagi dari Rijang Research Indonesia. Tim
penelitian akan melakukan ekskavasi di Gua Arca selama 16 hari sejak tanggal
diberangkatkan.
Selama berada di Pulau Kangean, lanjut Alifah, tim peneliti
akan fokus melakukan ekskavasi di Gua Arca sembari mengumpulkan
informasi-informasi penunjang lainnya tentang keberadaan gua sebagai hunian pada masa praaksara di Indonesia.
“Proses ekskavasi dilakukan dengan cara melibatkan pula
penduduk lokal sebagai tenaga lokal (tenlok) dalam proses ekskavasi,”
tambahnya.
Sedangkan tim 2, merupakan tim dari bidang etnografi,
speleologi dan bidang kesejarahan akan berangkat setelah menunggu penjadwalan
berikutnya.
Perlu diketahui, tahun ini sejatinya merupakan tahun
terakhir dalam program penelitian praaksara di wilayah Kabupaten Sumenep.
Penelitian dilakukan sejak tahun 2018 bertempat di situs Gua Arca Desa Daandung
Kecamatan Kangayan Pulau Kangean.
Menurut keterangan Alifah, data temuan pada penelitian
sebelumnya telah didapatkan berbagai jenis artefak dan ekofak yang telah
mengalami uji pertanggalan dengan hasilnya 6000BP. Sasaran yang dituju dalam
penelitian secara bertahap di Gua Arca ini adalah tinggalan budaya dalam
kronologi prasejarah yaitu hunian Gua.
Pada penelitian tahun 2019, tim peneliti menemukan beberapa
atefak berbahan batu berupa serpih-bilah. Teknologi pembuatan peralatan ini
telah ditemui sejak masa paleolotik dan berlanjut pada masa berikutnya.
Temuan-temuan tersebut kini berada di laboratorium penyimpanan benda-benda
temuan arkeologis di Balar DIY.
Penelitian tahun ini dilakukan dalam rangka menelusuri bukti
penguat bahwa Pulau Kangean telah dimanfaatkan sebagai gua multi site sejak
6000BP. Temuan-temuan di penelitian sebelumnya telah mengindikasikan keberadaan
migrasi dan hubungan antar pulau di masa lalu.
“Temuan yang beragam ini juga menunjukkan adanya
biodiveritas di Pulau Kangean,” terang Alifah.
Hasil penelitian ini tentu saja dapat memberikan manfaat
penting bagi informasi pengetahuan kesejarahan di Sumenep. Hal ini diharapkan
akan dapat memberikan manfaat yang berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan
di Indonesia, khususnya di wilayah Madura, sebagai bagian dari rangkaian
keberadaan Kangean dalam lintasan arkeologi praaksara di Indonesia.
(Han)