Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 23-10-2008
  • 410 Kali

Puan Amal Hayati, Peduli Nasib Perempuan

News Room, Kamis (23/10) Dalam beberapa kasus terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), ternyata sebagian besar berawal dari persoalan ekonomi. Hal itu menimbulkan ketidak harmonisan dalam rumah tangga, sering cek-cok, yang ujung-ujungnya terjadi tindak kekerasan, dan kaum perempuanlah yang menjadi sasaran korbannya. Hal itu diakui Ketua Puan Amal Hayati Terate, Nyai Hj. Aqidah Usmuni, ketika ditemui News Room, Kamis (23/10) di kediamannya di areal Pondok Pesantren Al Usmuni Tarate Desa Pandian Sumenep. Disamping itu, persoalan kemiskinan, yang menyebabkan terjadinya KDRT juga ada yang disebabkan pihak ketiga. Yakni bisa dari mertua yang ikut campur dalam persoalan anak bahkan ikut mengatur rumah tangga anaknya. Kemudian orang ketiga yang paling fatal yakni perselingkuhan, yang salah satu atau keduanya memiliki idaman lain. Sehingga dalam rumah tangga tidak harmonis lagi. “Tapi yang paling dominan terjadi yakni masalah kemiskinan, misalnya sang suami tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga karena tidak memiliki penghaslan tetap. Kemudian sang isteri juga sering mengeluh dengan kondisi ekonomi, yang akhirnya selalu terjadi pertengkaran dan sebagainya.”Ujar Pengasuh Ponpes Al Usmuni Terate ini. Karena itu menurut Hj. Aqidah, Puan Amal Hayati yang secara nasional dibentuk tanggal 24 juni 2001 oleh istri mantan Presiden Gusdur, Hj.Shinta Nuria dengan menggandeng organisasi perempuan lainnya, seperti Muslimat NU dan instansi yang menangani pemberdayaan perempuan kususnya di Sumenep mulai melakukan intervensi guna memecahkan persoalan KDRT tersebut. Upaya yang dilakukan diantaranya memberikan bimbingan kepada perempuan buta aksara agar bisa baca tulis, memberikan pelatihan keterampilan yang bisa memberikan tambahan penghasilan, serta pemberian bantuan langsung berupa modal usaha. Dan yang terpenting pula tegas Nyai Aqidah mengajak mereka untuk ikut dalam berbagai pengajian, sehingga mendapat siraman rohani yang lebih menentramkan dirinya dalam menjalani kehidupan berumah tangga dan menyerahkan semua persoalan kepada Allah SWT. “Alhamdulillah melalui pendekatan-pendekatan seperti itu, dalam beberapa tahun terakhir ini kasus KDRT khususnya di Sumenep mulai berkurang. Disamping itu Pendekatan kepada suami korban juga kita dilakukan dengan cara halus,” ujar Nyai Aqidah. Sebab memperlakukan pria yang memiliki tempramen keras tidak perlu dilawan dengan kekerasan juga. Karena sebenarnya pria juga menginginkan perlakukan yang lemah lembut. Apabila hubungan harmonis seperti itu tetap saling dijaga, dan tetap saling mensyukuri dengan segala kekurangan, Insya Allah rumah tangga yang dulunya seperti gelap gulita akan terang benderang seperti mentari pagi yang menyejukkan. (Ren, Adjie)