Media Center, Rabu ( 13/12 ) Prongpong atau Parongpong tetap tak bisa dipisahkan dari kesenian tradisional Sintung. Meski saat ini Sintung sudah tidak eksis lagi di sana. Seni tradisional shalawat tersebut saat ini tumbuh subur di Ambunten. Selasa (12/12) malam kemarin, bertempat di Pondok Pesantren Nurut Tawwabin, Prongpong, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, digelar acara Maulid Sintung. Maulid Nabi SAW yang dikemas dengan pertunjukan Sintung.
“Ada benang merah yang kuat antara Sintung dan Parongpong,”kata Faiqul Khair, salah satu tuan rumah acara Maulid, pada Media Center.
Prongpong dikisahkan sebagai lokasi lahirnya seni shalawat yang kemarin menyambut kedatangan Presiden Jokowi di Kabupaten Sumenep ini. Versi lain seni ini memang lahir di kawasan Ambunten. Namun perbedaan itu sepertinya ada titik temu.
Berdasar keterangan Faiq, seni ini dibawa oleh salah satu Kiai Parongpong saat mengikuti ekspedisi perang ke Aceh. Kiai Sa’idi namanya. Sementara versi Ambunten menyebut bahwa yang membawa seni ini ialah Kiai Macan atau Raden Demang Singoleksono. Keduanya dikenal sebagai ulama besar di masanya.
“Iya, Kiai Macan memang tokoh pembawa Sintung di Ambunten,”kata K. H. Suhil Imam, tokoh ulama Ambunten sekaligus pelestari Sintung, beberapa waktu kemarin.
Menurut RB. Muhlis, pemerhati sejarah di Kabupaten Sumenep, kemungkinan Kiai Macan dan Kiai Sa’idi ini sejaman. Berdasar kisah kuna, Kiai Macan ini memang pernah ikut ekspedisi ke Aceh. “Beliau merupakan tokoh keluarga keraton yang disegani dan dikenal banyak memiliki karomah, sehingga di samping sebagai Kepala atau Demang Ambunten, juga diminta sebagai senapati keraton,”kata Gus Muhlis.
Nah, dengan demikian versi Parongpong dengan Ambunten sejatinya tak bertentangan. Ekspedisi yang menjadi perantara hadirnya seni unik di Sumenep tersebut bisa jadi melibatkan keduanya dalam satu waktu. “Letak domisili beliau berdua saja yang berbeda, yang mana sama-sama merupakan lahirnya seni Sintung,”tutup Muhlis. ( M. Farhan M, Esha )