News Room, Kamis ( 08/10 ) Seni Tari Tayub sejatinya tidak hanya populer di Madura, atau khususnya Sumenep. Tayub juga cukup dikenal sebagai kesenian rakyat di wilayah Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Di Jawa, tarian ini biasa digelar pada acara pernikahan, khitanan serta acara kebesaran misalnya hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Juga dalam perayaan kemenangan dalam Pemilihan Kepala Desa, serta acara bersih Desa.
Anggota yang ikut dalam kesenian ini terdiri dari sinden, penata gamelan serta penari, khususnya wanita. Penari tari tayub bisa dilakukan sendiri atau bersama, biasanya penyelenggara acara (pria).
Pelaksanaan acara dilaksanakan pada tengah malam antara jam 9.00-03.00 pagi. Penari tarian tayub lebih dikenal dengan inisiasi taleda.
Van Zijp, salah satu pemerhati budaya tari tayub di masa kolonial mengatakan, bahwa seni tari tayub di keraton Sumenep dipengaruhi kesenian tari dari Jawa Tengah. Hal itu bisa dilihat dari informasi kalangan elit Keraton Sumenep, bahwa di awal tahun 1900-an hingga beberapa dasa warsa setelahnya, tayub dan personelnya juga merupakan konsumsi kalangan priyayi. Hal ini memiliki benang merah dengan masa kejayaan tayub dan taledak-nya di Jawa, tepatnya di dasawarsa awal abad ke 20.
“Di Madura, khususnya Sumenep, tayub merupakan tari panggung yang dipertontonkan dalam rangka menghibur tamu dalam pesta perkawinan,”kata salah satu tokoh budaya Madura, almarhum RP. Abdus Sukur Notoasmoro, seperti yang ditirukan oleh menantunya, Muhammad Saidi, pada News Room.
Namun, seiring dengan perubahan jaman, tayub juga mengalami banyak perubahan, tak hanya seperti yang diungkapkan oleh pemerhati budaya Ahmad Baisuni, bahwa banyak unsur yang hilang dalam seni tari rakyat ini. Namun yang ironi, banyak terjadi pergeseran nilai, seperti yang disebutkan Pak Sukur. Semuanya itu akar masalahnya adalah penyusupan budaya luar yang banyak bertentangan dengan agama yang dianut masyarakat Madura.
“Padahal Madura adalah masyarakat yang agamis. Akan sangat mudah menyensus status keagamaan masyarakat Madura. Orang, hampir semuanya beragama Islam kok,”tambah Pak Sukur, melalui Saidi.
Menurut Pak Sukur, dulu-dulunya para penayub di Madura, khususnya Sumenep, hanya mempertontonkan gerakan tangan yang gemulai dengan gerakan pinggul yang terbatas, dan tanpa dengan cara melihat lawan mainnya.
Sedangkan kejung (kidung), disenandungkan oleh tanda (sinden) bukan oleh penayub wanita sebagaimana yang terlihat sekarang, dengan diiringi pengrawit yang menabuh gamelan.
“Namun kini perubahannya drastis. Melantunkan kejung sambil menari dengan penayub laki-laki. Dan di tengah asyiknya menari meliuk-liuk, si penayub laki-laki dengan beraninya menyelipkan sejumlah uang ke balik kutang penayub perempuan, dengan tangannya sendiri. Bahkan ada yang berani menyelipkannya dengan menggunakan mulut. Itu bisa kita lihat di VCD-VCD yang beredar saat ini,”tambah Pak Sukur.
Tayub, menurut salah satu pendiri utama Tim Nabhara (Pembina Bahasa Madura) ini, di masa-masa awalnya sangat menjaga etika dan tetap berpijak norma agama.
Menurut Pak Sukur, penayub tidak perlu uang. Sebab, ia diundang oleh penanggap untuk menghibur tamu. Jadi, semua biaya sepenuhnya ditanggung penanggap. “Lha sekarang malah melenceng jauh. Seni tayub saat ini malah menjadi tanggapan umum. Yang penting harus mau menyelipkan uang meski ke balik kutang,”pungkasnya dengan sedikit geram, seperti yang diekspresikan Saidi. ( Farhan, Esha )