News Room, Selasa ( 01/09 ) Nama Drs. H Kurniadi Widjaja, M.Si, atau yang biasa dipanggil Pak Haji Kurniadi bagi warga Sumenep, hampir bisa dikata tidak asing. Hal itu tidak terlepas dari aktivitasnya yang selalu lekat dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Mulai dari yang sifatnya ranah keagamaan, pendidikan hingga bakti sosial di bidang kesehatan, mewarnai kehidupan sehari-harinya hingga di usianya yang kini sudah memasuki hampir kepala 7.
Di bidang keagamaan, pria kelahiran Sumenep 21 September 1950 silam ini dikenal lekat dengan dunia tashauf, atau lebih tepatnya thariqah. Khusus thariqah, H. Kurniadi memilih thariqah Qadiriah wa Naqsyabandiah yang kini berpusat di Suryalaya, Jawa Barat. Bahkan, saat ini beliau dipercaya sebagai Mudir Idarah Syu biyah Jam iyah Ahlith Thariqah Al-Mu tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Kabupaten Sumenep.
"Bagi saya ini suatu amanah atau tanggung jawab yang sangat berat. Semoga Allah menjadikan saya mampu mengembannya,"kata H. Kurniadi, pada News Room.
Di lembaga yang bergerak untuk memberi rambu-rambu pada masyarakat tentang thariqah yang mu tabar, dan ghairu mu tabar ini, putra pasangan K. Moh Tajjib, dan RA. Hamidiyah ini merupakan mudir yang pertama di Sumenep, periode 2010-2015. Dan kini setelah Musda II, Minggu (30/08), H. Kurniadi secara aklamasi kembali menduduki kursi mudir atau Ketua periode 2015-2020.
Sebelum memasuki aktivitas sosial kemasyarakatannya yang begitu sarat saat ini, H. Kurniadi mengawali kiprahnya di dunia birokrasi. Selepas lulus dari APDN Malang tahun 1979, H. Kurniadi diangkat sebagai Mantri Polisi Pamongpraja di Kecamatan Batang-batang. Lalu beliau menjabat sebagai Camat Dasuk, dan terakhir pensiun sebagai Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial pada tahun 2006 silam.
Selain itu, sejak 1987 silam, H. Kurniadi juga menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Sumenep. Sejak tahun yang sama, beliau juga aktif sebagai pengurus sekaligus Ketua Umum Yayasan Aria Wiraraja yang membidani lahirnya Universitas Wiraraja Sumenep.
Di samping itu, namanya juga tercatat sebagai pembina dan penasehat berbagai organisasi sosial di Sumenep. "Aktif di kegiatan sosial masyarakat itu, pada dasarnya adalah panggilan nurani. Namun, duduk di kursi pimpinan lembaga-lembaga sosial ini bukan keinginan saya. Apalagi di lembaga sosial yang sifatnya non provit atau tidak mengejar materi, memang tidak ada yang mau merebutnya,"kata Pembina Yayasan Ponpes Suryalaya Kolor ini sambil tersenyum.
Bagi H. Kurniadi, hidup yang diberikan Allah adalah berkah yang harus disyukuri. Lamanya hidup juga bervariasi. Ada yang panjang dan ada yang pendek. Namun, bagi ayah dari 2 orang anak ini, hidup tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, melainkan juga harus bermanfaat bagi orang lain.
"Oleh karena itu saya hanya berharap hidup saya ini bermanfaat lebih-lebih bagi orang banyak, sehingga pada dasarnya aktivitas apapun yang saat ini saya jalani adalah memanfaatkan sisa hidup untuk kepentingan ummat,"pungkasnya. ( Farhan, Esha )