News Room, Rabu ( 16/07 ) Puluhan aktifis mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumenep, Rabu pagi (16/07) menggelar aksi unjuk rasa di depan Taman Adipura, Jalan Trunojoyo. Aksi kali ini dilakukan dengan cara tutup mulut dan telinga memakai lakban. Tak ada orasi, hanya saja mereka membagi-bagikan selebaran kepada pengguna jalan yang kebetulan lewat di Jalan Trunojoyo dan depan Makodim 0827 Sumenep. Ketua PC PMII Kabupaten Sumenep, Moh. Muhri Zain mengatakan, aksi ini sebagai lambang keprihatinan dan bentuk kekecewaan terhadap Pemerintah Kabupaten Sumenep. Sebab, selama 5 tahun terakhir harga tembakau Madura, khususnya di Sumenep anjlok. Akibatnya, petani tembakau selalu dalam keterpurukan. Bahkan, petani seringkali dijadikan kelinci percobaan dan dijadikan alat untuk meraup keuntungan oleh orang-orang tertentu. "Tahun ini jangan sampai petani tembakau, kembali dijadikan alat untuk meraup keuntungan yang dilakukan para penguasa,†kata Muhri pada saat memberikan selebaran pada pengguna jalan Trunojoyo, Kota Sumenep. Selama ini, kata dia, petani tembakau selalu dijadikan alasan untuk menentukan kebijakan antara penguasa dengan pihak pabrikan. Padahal, kebijakan tersebut tidak pernah menyentuh kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat, malah menindas petani. Itu dibuktikan dengan anjloknya harga yang terjadi selama lima tahun terakhir. "Seharusnya pemerintah itu menjadi mediator antara petani dengan pabrikan, bukan malah memberi jalan yang mulus bagi pabrikan untuk meraup keuntungan dari petani," tegasnya. Melalui gerakan aksi tutup mulut dan telinga yang melambangkan kekecewaan para petani terhadap pemerintah, aktifis PMII Kabupaten Sumenep berharap semua pihak melakukan aksi serupa. Massa PMII yang juga membawa berbagai macam poster dan spanduk yang berisikan kecaman terhadap pemerintah dan pihak pabrikan itu berjanji akan menggelar aksi lebih besar bersama petani menjelang panen raya tembakau tahun 2008 ini. Zain menegaskan, aksi lanjutan dan berbagai pembelaan terhadap petani akan terus dilakukan setiap saat, jika petani tembakau belum bisa menikmati hasil jerih payahnya dari menanam tembakau. ( Nita, Esha )