Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 18-04-2016
  • 1836 Kali

Ponpes Darul Istiqomah Batuan, Ponpes Semi Salaf

News Room, Selasa ( 19/04 ) Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Istiqomah Batuan Sumenep memang bukan ponpes kuna. Pondok Pesantren ini masih berusia belasan tahun. Ibarat remaja, ponpes ini masih sangatlah muda, dan ranum. Namun kembali diibaratkan, kedewasaan kadang tak bisa diukur dari segi usia. 

Meski masih relatif muda, ponpes ini tergolong diperhitungkan. Tentu hal itu tak bisa lepas dari asal-usul dan peran pendirinya. Secara historis, Ponpes Darul Istiqomah berdiri “nyaris” tak disengaja. Berdasar pengakuan Kiai Haji Hafidhi Syarbini, pendiri sekaligus pengasuh, Ponpes Darul Istiqomah secara tak langsung didirikan oleh masyarakat sekitarnya. Namun jika melihat latar belakang pesantren-pesantren di Indonesia sejak dulu kala, memang kebanyakan alias tidak sedikit yang berdiri atas permintaan warga sekitar. 

“Cerita awalnya dulu, waktu selesai mondok, saya dihubungi salah satu warga disini untuk mengelola Masjid Perumnas Batuan,”kata Kiai Hafidhi, beberapa waktu lalu. Kiai Hafidhi merupakan jebolan Pondok Pesantren Sarang. Sedangkan yang menghubunginya untuk mengelola masjid adalah tetangga asal Desanya di Pakamban, Kecamatan Pragaan yang mukim di Perumahan Batuan. 

Ya, Kiai Hafidhi memang bukan asli kelahiran Batuan. Beliau hijrah dari Desa asalnya, dan ikut menghidupkan pelita ilmu agama di sekitar kawasan Kota Sumenep ini. Tahun 1997, merupakan titik awal berdirinya Ponpes Darul Istiqomah. Adalah Pak Amin, salah satu warga Perumnas Batuan yang merupakan warga asal Pakamban mencari tokoh untuk bisa mengelola masjid yang ada perumnas tersebut. 

Posisi tersebut kemudian ditawarkan pada Kiai Hafidhi tetangga di Desanya, yang sudah dikenal ke’alimannya oleh Pak Amin. Jadilah kemudian peristiwa hijrahnya Kiai Hafidhi ke Perumnas Batuan tersebut. 

“Sekarang Pak Amin sudah almarhum. Sejak saat itu saya menjadi warga Perumnas,”cerita Kiai Hafidhi. Dari Batuan ini, nama Kiai Hafidhi mulai dikenal warga sekitar. Tiga tahun kemudian, namanya mulai mengudara tak hanya di Batuan. Hal itu diakibatkan rubrik tanya jawab seputar fiqh di stasiun RRI Sumenep yang disiarkan khusus di Bulan Suci Ramadlan setiap menjelang buka puasa. 

Rubrik keagamaan yang diberi nama Semanis Kurma itu diperankan oleh Kiai Hafidhi selama sebelas tahun. Dari sinilah, kemudian diketahui dan dikenal ketinggian ilmu agama sekaligus penguasaan Kiai Hafidhi di bidang fiqih. Di saat yang sama, tahun 2000, atas permintaan warga, Kiai Hafidhi kembali pindah dari area perumahan, dan menempati lahan baru yang lebih luas. Yaitu yang saat ini menjadi lokasi Ponpes Darul Istiqomah. 

Memang sejak saat Kiai Hafidhi hijrah ke Batuan, tak lama kemudian banyak warga yang menitipkan putra-putrinya untuk nyantri pada Kiai Hafidhi. Bahkan, tak hanya dari sekitar Desa Batuan, santri-santri berdatangan dari Desa lain, bahkan ada yang dari pulau, sehingga pilihan terbaik memang harus menempati lahan baru yang lebih luas. Dan kebetulan lahan tersebut memang lebih dekat jaraknya ke Masjid Perumnas Batuan.

“Ya, tidak banyak yang nyantri. Dan juga saya memang tidak ada keinginan untuk memperbanyak santri. Tapi saya juga tidak bisa menolak jika ada wali santri yang mau menitipkan putra-putrinya,”kata Kiai Hafidhi, sambil merendah. 

Para santri rata-rata berasal dari Desa lain berasal dari Kecamatan Gapura, dan juga dari Desa kelahiran kiai Hafidhi di Pakamban. Selain itu juga tidak sedikit yang berasal dari Pulau Gili Iyang. 

“Saat ini, total santri yang menetap di pondok sekitar 25 orang lebih. Itu terdiri dari putra dan putri,”ungkap pria kelahiran 30 Juli 1965 ini. 

Pada umumnya sistem pendidikan pesantren, khususnya Sumenep, beragam. Ada yang modern, semi modern, salafiyah, dan semi salaf. Nah, sistem pendidikan di Pesantren Darul Istoqomah disebut Kiai Hafidhi mengikuti sistem yang terakhir.

Disebut semi salaf, karena sistem pendidikan di Ponpes ini mengikuti sistem pendidikan pesantren salaf pada umumnya, tapi tidak murni salaf. “Fokusnya memang pada penguasaan baca kitab,”tambahnya.

Namun kendati begitu, Kiai Hafidhi tidak menutup diri pada sistem pendidikan formal maupun modern. Santrinya tetap diberi kebebasan untuk bersekolah formal diluar pesantren, sehingga santri Darul Istiqomah ada yang sekolah SMA, MA, dan lain semacamnya. Lalu kenapa tak membuka sekolah formal sendiri ? 

“Sudah banyak itu. Jadi saya rasa tidak perlu. Hanya tetap kami tekankan pada santri, agar mendahulukan ilmu agama di atas ilmu umum. Karena ilmu agama dipakai di dunia sekaligus di akhirat,”tutupnya. ( Farhan, Esha )