News Room, Rabu ( 06/05 ) Bagi warga Sumenep, Pondok Pesantren Darul Istiqamah Desa Batuan, Kecamatan Batuan mungkin masih terasa asing. Namun sebaliknya, warga sekitar Sumenep pasti tidak akan asing dengan nama KH. Hafidhi Syarbini. Terutama bagi mereka yang sering mengikuti rubrik tanya jawab “Semanis Kurma” yang disiarkan secara live di stasiun RRI Cabang Sumenep, sejak tahun 2000 silam.
Rubrik tanya jawab seputar fiqh tersebut yang disiarkan khusus di bulan Suci Ramadlan menjelang buka puasa itu, dilakoni oleh Kyai Hafidhi selama kurang lebih 11 tahun. “Sejak tahun 2011 saya istirahat dari acara Semanis Kurma,”kata Kyai Hafidhi pada News Room, di kediamannya, Desa Batuan, Kecamatan Batuan.
Saat ini, Kyai alumnus Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini fokus mengelola lembaga pendidikan yang didirikannya sejak kurang lebih 18 tahun silam. Lembaga pendidikan yang dikelola Kyai Hafidhi berbentuk Pondok Pesantren semi salaf, dan diberi nama Darul Istiqamah.
“Disebut semi salaf karena sistem pendidikannya mengikuti sistem pendidikan pesantren salaf. Yang fokusnya pada penguasaan baca kitab. Jadi, di sini kami tidak mendirikan lembaga formal. Namun, para santri tetap dibolehkan belajar di sekolah umum yang sudah ada di sekitar pondok. Boleh masuk SMP atau SMA. Makanya istilahnya semi salaf,”jelas Kiai Hafidhi.
Saat ditanya mengapa tidak mendirikan lembaga pendidikan formal seperti pesantren semi salaf lainnya, Kyai yang saat ini juga menjabat sebagai salah satu Wakil Rais Syuriah PCNU Sumenep itu hanya tersenyum. Lalu berkata,
“Ya tidaklah, di sekitar kita sudah banyak lembaga pendidikan formal. Di Jambu sudah ada pesantren Kyai Taufiq. Apalagi di kota Sumenep, sudah banyak lembaga pendidikan formal di bawah naungan pesantren”.
Mengenai latar belakang mendirikan pesantren itu, menurut Kyai Hafidhi berawal tanpa perencanaan lebih dulu. Pasca mondok dari Sarang, Kyai Hafidhi dihubungi salah satu warga Perumnas Batuan untuk mengelola Masjid Perumnas.
“Kebetulan yang menghubungi saya itu tetangga saya dari asal Desa Pakamban. Namanya Pak Amin. Sekarang orangnya sudah almarhum. Saya tahun 1997 datang ke sini dan menjadi warga perumahan. Lalu baru 3 tahun setelahnya diminta warga untuk menempati lahan di sini,”cerita Kyai Hafidhi.
Ya, Kyai kelahiran 30 Juli 1965 ini memang berasal dari Desa Pakamban, Kecamatan Pragaan. Sejak saat itulah kemudian banyak warga yang menitipkan putra-putrinya untuk nyantri pada Kyai Hafidhi. Bahkan, tak hanya dari sekitar Desa Batuan, santri-santri berdatangan dari Desa lain, bahkan ada yang dari pulau.
“Tidak banyak yang nyantri. Saya juga tidak ada keinginan untuk memperbanyak santri. Tapi, saya juga tidak bisa menolak jika ada wali santri yang mau menitipkan putra-putrinya,”katanya merendah.
Rata-rata santri yang dari Desa lain berasal dari Kecamatan Gapura, dan juga dari Desa kelahiran Kyai Hafidhi di Pakamban. Selain itu juga tidak sedikit yang berasal dari Pulau Giliyang.
“Saat ini, total santri yang menetap di pondok sekitar 25 orang. Itu terdiri dari putra dan putri,”ungkapnya. Meski membebaskan santrinya untuk sekolah umum, Kyai Hafidhi menekankan santri agar bisa membaca kitab kuning.
“Karena sumber primer agama kita itu berbahasa Arab. Tanpa menguasai gramatikanya dan bahasanya, maka mustahil untuk memahami sumber-sumber kitab klasik para ulama besar Islam terdahulu,”tutupnya. ( Farhan, Esha )