News Room, Sabtu ( 22/05 ) Musim tanam tembakau yang kemungkinan sebentar lagi jika musim hujan saat ini segera mereda, masih menyisakan kegundahan dikalangan masyarakat petani yang selama ini fanatik menanam tembakau sebagai ajang menjadi hasil dari daun emas ini. Sebab, jika mengingat hasil tembakau tahun sebelumnya, banyak petani yang hanya tinggal peras keringat tanpa hasil, karena harganya jungkir balik. Disamping harga-harganya yang tak pernah fantastik sejak beberapa tahun terakhir ini, ditambah lagi dengan anomali cuaca yang kian tak menentu, membuat para petani tembakau berkurang. Bahkan, di Desa Prancak, Campaka dan Desa Lebbeng Barat dan Timur Kecamatan Pasongsongan, yang dari dulu dikenal penghasil tembakau terbaikpun, animo masyarakat juga berkurang. “Sudah bukan rahasia lagi di Desa Prancak, dan Desa-desa lain di Kecamatan Pasongsongan, dari dulu memang terkenal dengan tembakau kualitas dunia. Tapi, kalau harganya selalu tidak stabil, ya beginilah, petani jadi malas-malasan untuk tanam,"ungkap Mohammad Imron Encung, anggota DPRD Sumenep asal Dapil 4, kepada wartawan tadi siang, Sabtu (22/05). Dijelaskan, biasanya pada saat ini ketika sudah hampir masuk bulan 6, banyak petani yang mulai tanam tembakau, tapi kali ini tak satupun petani yang menanam tembakau. Padahal, tahun lalu, awal bulan 5 saja, petani yang nanam sudah lebih dari 50 persen, sehingga diyakini animo masyarakat sudah kurang mood untuk tanam tembakau, jika hasilnya tak ada, bisa balik bodalpun sepertinya sudah mujur. Menurutnya, saat ini warga Desa di Kecamatan Rubaru, Ambunten, Dasuk dan Kecamatan Pasongsongan lebih condong pada tanaman alternatif, seperti cabe, mentimun, dan tanaman lain yang dinilai tidak terlalu berisiko dibanding tembakau yang harus mengeluarkan jutaan rupiah, untuk biaya penanaman dan perawatan. "Saya berharap, pemerintah bisa membantu masyarakat petani tembakau, agar mencarikan solusi pasar yang jelas, hingga nasib petani tembakau tidak lagi memprihatinkan seperti tahun-tahun sebelumnya."tambahnya. ( Ren, Esha )