News Room, Kamis ( 12/08 ) Meskipun harga garam saat ini naik, namun para petani garam khususnya yang ada di Madura tidak selamanya menikmati kenaikan harga garam. Sebab, dalam beberapa bulan ini para petani tidak bisa menikmati hasil garam karena cuaca yang buruk. Meskipun ada yang sempat melakukan panen garam, hasilnya tida seberapa serta kwalitasnya kurang bagus. Menurut salah seorang petani asal Desa Pinggirpapas, Erfandi mengaku, biasanya pada awal bulan Agustus para petani sudah banyak yang panen. Namun, karena akhir Juli 2010 kemarin beberapa hari sempat turun hujan, petani garam gagal melakukan panen, sehingga para petani hingga saat ini masih belum ada yang menghasilkan garam yang bisa dijual agak mahal dari harga sebelumnya. “Sebab, rata-rata petani garam rakyat langsung menjual garamnya ketika panen, sehingga hasil panen tahun lalu dan sebelumnya sudah langsung habis dijual dengan harga waktu itu masih rendah,”ujar Erfandi. Jadi, dengan adanya kenaikan harga garam sepertinya bagi petani percuma saja. Sementara jika pada saat cuaca bagus dan hasil panen bagus, justru harga tidak berpihak kepada petani. Bahkan, saat ini informasinya perusahaan garam justru akan melakukan impor garam dari luar, sehingga akan menjatuhkan harga garam nasional. Salah seorang petani asal Kabupaten Pamekasan, Bambang juga mengaku hal yang sama. Bahkan, jika nantinya pemerintah mengabulkan permohonan salah satu perusahaan garam melakukan impor garam, maka akan lebih membuat petani garam sengsara. “Saya harap permohonan itu tidak dikabulkan pemerintah, sebab dalam Keputusan Pemerintah tahun 2007 sendiri, tidak boleh ada impor garam 1 bulan sebelum panen dan 2 bulan setelah panen,”terangnya. Sebab, jika itu dikabulkan, harga garam dalam negeri akan terus merosot dan petani garam akan terus terpuruk. Apalagi, biaya ongkos panen dan angkut semakin mahal, karena semua harga kebutuhan pokok juga ikut naik. Jadi, petani hanya menunggu kebijakan pemerintah dalam persoalan garam dalam negeri ini. ( Ren, Esha )