News Room, Rabu ( 07/05 ) Meskipun sudah berupaya maksimal dalam menghasilkan produksi pertanian di wilayah Desa Bunbarat Kecamatan Rubaru, namun hasilnya tetap berbeda dengan hasil pertanian di wilayah lainnya yang memiliki aliran sungai dan pompa air yang memadai untuk mengaliri air di areal pertaniannya. Sebab, wilayah Desa Bunbarat sebagian besar merupakan lahan tadah hujan. Kalaupun ada yang menggunakan mesin pompa air hasilnya juga belum maksimal. Kecuali jika menggunakan mesin bor berkapasitas besar. Salah seorang petani warga Desa Bunbarat Kecamatan Rubaru, Syamsul Arifin, mengaku sangat berharap adanya bantuan pengadaan pompa air yang berkapasitas besar di Desanya. Karena pompa air yang merupakan bantuan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep beberapa tahun lalu sudah lama rusak dan sudah diberita acarakan untuk dikembalikan. “Karena, dalam penggunannya hasil air dari mesin pompa air tersebut kurang maksimal dibandingkan dengan kebutuhan air oleh petani,”ungkapnya. Apalagi, selama ini para petani terus berupaya menerapkan pola produksi pertanian yang dilaksanakan pemerintah. Seperti halnya dalam penggunaan pupuk organik sejak 2 tahun ini sudah dilaksanakan oleh petani. Bahkan, mampu menghasilkan padi yang cukup bagus dibandingkan dengan hasil produksi sebelumnya. Hanya saja, diakui petani yang merupakan bendahara Kelompok Tani Barokah di Desanya ini, jika dibandingkan dengan hasil produksi pertanian di wilayah lainnya masih belum menjangkau. Karena, memang kapasitas air hanya mengandalkan hasil tadah hujan. Misalnya, jelas Syamsul, saat menggunakan pupuk organik bisa dilihat dari hasilnya, yang sebelumnya setiap 1 hektar lahan menghasilkan padi 5,8 ton, setelah menggunakan pupuk organik bisa mencapai 6,5 ton. Padahal itu bisa lebih banyak lagi, jika pengairannya lebih maksimal. Karena itu, pihaknya berharap ada upaya pemerintah bagaimana bisa menampung hasil padi organik dengan harga yang layak. Sehingga petani tidak dirugikan dengan menjual sama harganya dengan padi an organik. Misalnya saja yang ditawarkan Bulog masih jauh bahkan dibawah harga jual petani di bawah. ( Ren, Esha )