Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 19-04-2007
  • 526 Kali

Perlu Inovasi Pelayanan Kesehatan

Sumenep-Kominfo News Room : Pembangunan bidang kesehatan perlu invovasi dalam pelayanan, karena Jatim jumlah penduduknya terbesar kedua setelah Jakarta, serta Kabupaten/Kotanya terbanyak di Indonesia. Selain itu, penyakit menular dan tidak menular seperti kusta, TB, HIV/AIDS, demam berdarah (DB), jantung dan diabet memerlukan pelayanan optimal. Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Kesejathteraan Masyarakat Sekda Propinsi Jawa Timur, Ir. Mulyadi, MMT pada Rakor Pembangunan Kesehatan Propinsi Jatim 2007 di Garden Palace, Rabu ( 17/04) sore, mengharapkan pembangunan kesehatan bisa menjadi penyangga dari seluruh aspek pembangunan bangsa, sehingga memerlukan inovasi dalam pelayanan. Pembangunan kesehatan bagian intregral pembangunan sumber daya manusia, yang tujuannya menigkatkan derajat kesehatan masyarakat sesuai standar, karena merupakan aset bangsa dan negara. Rakor kali ini bertema Membangun Kesehatan di Jawa Timur. Kemajuan pembangunan bidang kesehatan di Jatim menunjukkan peningkatan. Hal ini terlihat dari indikasi angka kematian bayi menurun dari 42 bayi pada 2003 menjadi 34 bayi. Angka kelahiran pada 2005 dari 1000 bayi harapan hidup meningkat. Dari usia 66,8 tahun pada 2003 menjadi 68,47 di tahun 2005. Pembangunan kesehatan mengacu pada milenium developmen gold yang harus dicapai tahun 2015. Sasarannya diantaranya pelayanan kesehatan, mewaspadai masalah yang menjadi kendala seiring perkembangan sosial politik dan ekonomi. Diberlakukannya UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, pemerintah Kabupaten/Kota diberi kewenagan mengembangkan dan membangun daerahnya, termasuk layanan kesehatan. Pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah memungkinkan penyelenggaraan birokrasi lebih ringkas dan daerah berpeluang melakukan inovasi dalam penyelenggaraan pelayaan kesehataan yang berkualitas. Melalui Pergub Nomor 188/2007 tentang Sistem Kesehatan Propinsi (SKP) hendaknya memperhatikan subsistem upaya kesehatan, penyelenggaran kesehatan, sumberdaya kesehatan perorangan dan kelompok. Layanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat, perlu memantapkan revitalisasi Puskesmas dengan meperhatikan tiga fungsi yakni pusat pelayanan kesehatan masyarakat, pusat pembangunan berwawasan kesehatan, dan pusat pemberdayaan masyarakt di bidang kesehatan. Dia menambahkan, perkembangan penyakit flu burung yang semakin meresahkan masyarakat menuntut kewaspadaan dan koordinasi guna menekan angka penularan. Masalah kesehatan lain yang perlu mendapat perhatian yakni deman berdarah. “Saya berterimkasi pada Kabupaten/Kota yang senantiasa menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk dengan melibatkan elemen masyarakat. Foging bukan jawaban untuk mencegah DB, bahkan foging akan merusak lingkungan dan nyamuk menjadi kebal,” katanya. Upaya lain yang menuntut perhatian yakni masalah gizi. Pendekatan keluaraga sadar gizi (kadarsi) masyarakat melalui posyandu untuk memantau perkembangan dini balita. Tujuannya untuk mecukupi kebutuhan pangan dan gizi keluarga. ( JNR, Esha )