News Room, Selasa ( 06/01 ) Momentum memperingati kelahiran Rasulullah SAW, yang biasa dilaksanakan dengan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di berbagai tempat, termasuk di Kabupaten Sumenep, hendaknya betul-betul dijadikan sebuah kegiatan untuk mengingat Rasulullah SAW dan menjadikan suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai diri sendiri, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal tersebut ditegaskan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumenep, DR. KH. Safraji, M.Pd.I kepada News Room, Selasa (06/01) di kediamannya. Menurutnya, peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW tidak hanya sekedar kegiatan seremonial tahunan yang tidak bermakna. ¡°Namun, yang lebih penting, ialah bagaimana mencari makna dan meneladani kehidupan Rasulullah SAW, bagaimana berupaya untuk menjalani kehidupan semakin baik,¡±ungkapnya. Sebab, diakui saat ini persoalan moralitas dalam kehidupan masyarakat semakin melanda bangsa. Bahkan, sebagian masyarakat cenderung selalu berlaku hedonisme dengan bersenang-senang dan berfoya-foya dengan menghambur-hamburkan harta untuk kegiatan yang kurang bermanfaat dan mubadzir. Misalnya saja, tegas pria yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usmuni Terate Sumenep ini, kegiatan Maulid Nabi yang justru banyak dibumbui kegiatan mubadzir dengan membakar mercon, kembang api, dan sejenisnya yang hanya bersifat hura-hura. ¡°Yang jelas, kegiatan mubadzir dan hura-hura dilarang oleh agama, dan ini harus disampaikan oleh para tokoh agama, dan tokoh masyarakat agar tidak sampai terus dijadikan kebiasaan,¡±imbuhnya. ( Ren, Esha )