News Room, Sabtu ( 14/12 ) Perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep terhadap siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) masih minim. Itu terlihat dari sedikitnya keterlibatan siswa yang berada di lembaga pendidikan anak berkebutuhan khusus tersebut. Padahal, mereka juga bagian dari masyarakat Sumenep. Kepala SLB Dharma Wanita Sumenep, Lianatus Solicha, berharap kepada Pemkab, baik Eksekutif maupun Legislatif bisa memiliki empati. Karena, selama ini siswa SLB jarang dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang sudah diagendakan. “Kenapa harus dibedakan. Toh, siswa di SLB juga bagian dari anak-anak Sumenep dan juga merupakan bagian dari birokrasi,”tukasnya penuh harap. Jumlah siswa di SLB Dharma Wanita ini sebanyak 64 siswa, terdiri dari 7 siswa TKLB, 40 siswa SDLB, 14 siswa SMPLB dan 13 siswa SMALB. Proses pembelajaran di sekolah ini sama halnya dengan sekolah biasa. Hanya saja, yang diajarkan sesuai dengan kemampuan siswanya masing-masing. Sekolah pun dimulai pada pukul 7.30 berakhir pukul 10.00 bagi TKLB, dan pukul 11.00 SDLB, hingga pukul 12.00 untuk SMPLB dan hingga pukul 13.00 bagi SMALB. “Sekolah ini memakai kurikulum KTSP yang sudah disesuaikan dengan Sekolah Luar Biasa. Selain pelajaran tersebut, berbagai keterampilan juga diajarkan sesuai dengan kemampuan siswanya,”katanya. Pada dasarnya mereka juga mampu berprestasi, jangan hanya melihat mereka dari segi negatif. Apalagi disekolah ini juga kerap dilaksanakan berbagai kegiatan sama halnya dengan siswa biasa. Antusias siswanya juga cukup tinggi. “Siswa kami ada yang berprestasi dan menjuari berbagai event, yakni Juara II Lomba Baca Puisi tingkat Propinsi Jawa Timur, pada tahun 2012, diraih Adi Ahmadi (tuna ganda). Finalis 10 besar Lomba Mipa Propinsi Jawa Timur, tahun 2011, diraih Hotmi Wilada (Tuna rungu wicara/bisu tuli), dan Juara III Lomba Menggambar dalam acara Mayapada tingkat Kabupaten Sumenep, tahun 2011, diraih Dwi Mahardini (bisu tuli),”terangnya. Intinya, sekolah seperti ini harus tetap didukung, termasuk pelajar yang bersekolah didalamnya. Mereka punya impian dan bakat masing-masing. Pemerintah, masyarakat, orangtua murid harus peduli dengan adanya sekolah semacam ini. “Karena siswa SLB juga tak mau kalah bersaing,“ujarnya. Ia mengungkapkan, kegiatan pembelajaran dan bimbingan di sekolah siswa SLB juga diberikan kegiatan ekstra kulikuler sesuai bakatnya, seperti tata boga, tata rias dan tata busana. Dan pada pentas seni dan gebyar kreatifitas kegiatan ekstrakulikuler diwujudkan dengan penampilan siswa SLB yang memukau, seperti baca puisi, menyanyi, menari, pantomem dan berbagai pentas lainnya. “Prestasi yang pernah diraih siswa kami selain lomba cipta dan baca puisi tingkat Jatim, juga berprestasi di Regu Terkompak pada Jambore Cabang Pramuka Sumenep tahun 2012 lalu,”pungkasnya. Para tenaga guru di SLB Dharma Wanita tersebut, tidak pernah mengeluh dalam membimbing, mengajar dan melatih Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Bagi mereka, ABK ini juga merupakan bagian dari anak-anak bangsa yang butuh perhatian khusus dengan kekurangan yang mereka miliki. ( Nita, Esha )