Media Center, Kamis ( 26/09 ) Semua pihak terkait bersama elemen masyarakat perlu membangun sinergitas untuk mempercepat eliminasi penyakit Tuberkulosis (TBC), pasalnya penyakit itu masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Sumenep.
“Angka penderita TBC di Sumenep dua tahun terakhir ini mengalami peningkatan, sehingga perlu dilakukan sinergitas semua pihak agar penderita penyakit itu tidak bertambah pada tahun ini,” tegas Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep, Ir. Edy Rasiyadi, M.Si, pada Pengenalan Program Stop TB Partnership Indonesia kepada lintas sektor dan Pemerintah Kabupaten Sumenep di Hotel C1, Kamis (26/09/2019).
Sekda mengatakan, berdasarkan data selama dua tahun ini, kasus TBC menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun 2017 sebanyak 1.627 jiwa dan temuan kasus pada tahun 2018 jumlahnya sebanyak 1.709 jiwa, namun angka penderita itu masih di bawah target yakni sebanyak 2.050 penderita.
“Dari temuan data kasus penderita TBC itu di antaranya sebanyak 4 persennya penderitanya adalah anak-anak,” ungkapnya.
Ia menyatakan, selain itu, capaian penanganan kasus TBC semakin rendah, sesuai data bahwa pada tahun 2016 sukses rate-nya 92,74 persen, tahun 2017 sebesar 88,93 persen dan tahun 2018 sebesar 70,4 persen.
“Strategi pencegahan dan penanganan TBC di Sumenep, seperti kegiatan Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS) TBC serta berbagai program lainnya harus terus diperkuat, namun tetap fokus pada pendekatan promotif dan preventif,” ujarnya.
Untuk itu, diharapkan seluruh pihak terkait termasuk elemen masyarakat perlu meningkatkan sinergitas mulai tingkat Kabupaten hingga desa, untuk memberikan kontribusi sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan dalam bidang tugas masing-masing guna mempercepat eliminasi TB di Kabupaten Sumenep.
“Saat ini, konektivitas dan mobilitas antar daerah semakin mudah, sehingga jika tidak ada pengendalian lintas sektoral tentu saja penyebaran TBC di Sumenep semakin meluas,” pungkasnya. ( Yasik, Fer )