News Room, Selasa ( 25/12 ) Di era globalisasi ini, peran perempuan di berbagai bidang, khususnya pembangunan mulai mengembang, karena perempuan sudah bisa mengepakkan sayapnya untuk berkreasi. Hal itu terjadi, akibat adanya gender atau kesamaan antara perempuan dan laki-laki, baik hak maupun kedudukannya. Namun, kondisi semacam itu ternyata berdampak buruk bagi perkembangan peran ibu sendiri. Karena, sejak munculnya gender yang selalu digembar-gemborkan oleh pemerintah, membuat peran ibu mulai terkikis. Demikian diungkapkan Ketua DPP Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) bagian perempuan, Ir. Hj. Ismah Cholil, usai memberikan materi dalam dialog Interaktif di Masjid Nur Muhammad Sumenep. Ustadza Ismah menilai, bahwa pemberlakuan gender tersebut bukan malah memperbaiki nasib para perempuan, tapi hanya bisa memperburuk keberadaan perempuan, yang semakin lama bergeser meninggalkan fungsinya sebagai seorang Ibu rumah tangga. Menurut Ustadza Ismah, saat ini tugas mulia seorang ibu, bukan mengurusi rumah tangga, tapi lebih mulya keluar rumah bersama-sama suami mencari nafkah. Sehingga, pihaknya menganggap pemberlakuan gender sudah merusak sistem otak dikalangan perempuan, yang mengajak perempuan untuk berpola pikir kearah liberal. Ustadza Ismah menandaskan, untuk meminimalisir pemberlakuan gender itu, pihaknya memberikan sebuah solusi berupa treatment atau pembinaan yang mengacu pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi para Ibu. Kemudian, terjun kemasyarakat dengan melakukan pembinaan rutin berupa seminar maupun tabligh, yang arahnya pada penyadaran Islami kepada masyarakat, untuk menentukan mana yang benar dan salah. Ustadza Ismah menjelaskan, penyetaraan gender itu bukan memberikan kontribusi yang baik bagi pola pikir para Ibu, namun justru makin memporak-porandakan peran Ibu, sehingga dengan adanya penyetaraan gender tersebut, peran Ibu terus bergeser dan sulit untuk mengontrol anaknya sendiri. ( Nita,Esha )