News Room, Senin ( 21/03 ) Perkembangan usaha peternakan sapi yang dilaksanakan oleh Kelompok Usaha Bersama (Kube) di Desa Parsanga, meskipun sempat meraih prestasi di tingkat Jawa Timur, namun saat ini terjadi kelesuan, dengan turunnya harga sapi di pasaran, sehingga dalam beberapa bulan ini tidak bisa mengembangkan usahanya. Salah seorang Ketua Kube di Desa Parsanga, Moh. Rislan mengungkapkan, secara fisik sejumlah sapi yang dipelihara oleh anggota kelompoknya, perkembangannya cukup bagus. Namun, jika dibandingkan dengan biaya pemeliharaannya, harga jualnya belum menutupi biaya pemeliharannya. “Jika sebelumnya rata-rata ketika 6 bulan hingga 1 tahun sudah bisa dijual dengan keuntungan minimal 30 persen dari modal pembelian. Namun, saat ini terpaksa hanya melakukan perawatan, agar sapi tidak menjadi kurus,â€ujarnya. Dijelaskan, kalau soal makanan sapi pada musim hujan seperti ini, tidak menjadi kendala. Bahkan, ketika musim kemaraupun bisa mensiasati dengan ampas tahu dan sebagainya. Namun, terkait dengan harga jual, tergantung kondisi pasar, sehingga keuntungan peternak tidak bisa ditentukan. Rislan mengaku, persoalan harga sapi baru terjadi saat ini, sejak mendapat Bantuan Langsung Pemberdayaan Sosial (BLPS) dari Departemen Sosial tahun 2008 lalu. Bahkan, dalam beberapa tahun sebelumnya, harga sapi tidak pernah anjlok seperti saat ini. Bayangkan, perbandingannya harga sebelumnya 1 ekor sapi sedang untuk penggemukan seharga Rp. 4.000.000,00, saat ini hanya sekitar Rp. 3.000.000,00, bahkan bisa dibawahnya. “Mudah-mudahan kondisi ini tidak berlangsung lama, sehingga para peternak tidak sampai merugi. Minimal ada keuntungan selama masa penggemukan,â€pungkasnya. ( Ren, Esha )