Media Center, Selasa ( 27/03 ) Kehadiran Suroadimenggolo ke-V dan putranya Raden Saleh, serta beberapa putra-putri lainnya yang hijrah ke Sumenep, memberi warna baru bagi para penerus lalampanna Aria Wiraraja ini. Di satu sisi kehadiran pembesar Terbaya yang menerima cap sebagai pemberontak, membuat keluarga Keraton Sumenep ikut diawasi.
"Gerak-gerik keluarga Sultan, utamanya keluarga Suroadimenggolo ke-V tidak leluasa. Meski Sultan Sumenep tak lama kemudian menunjuk iparnya, Raden Saleh Notodiningrat sebagai Patih Dalem (Rijksbestuurder) Keraton dengan gelar Raden Adipati Pringgalaya," kata RB. Muhlis, salah satu keturunan Suroadimenggolo V.
Di sisi lain, percampuran darah Semarang ini membentuk karakter keluarga Bangsawan Sumenep menjadi lebih maju dalam hal dunia pemikiran. Meski belum ada data penelitian khusus mengenai hal ini, percampuran dua poros Sumenep-Semarang, yakni trah Bindara Saut-Suroadimenggolo; melahirkan generasi-generasi hebat yang dibuktikan setidaknya dengan mitos Asta Tinggi keramat.
Keraton Sumenep memang bisa dikata satu-satunya wilayah Madura yang bisa memadukan sisi tasauf dan keilmuan (modern). Tokoh-tokoh keratonnya juga dinilai mampu memadukan kewalian dan kekuasaan. Sehingga dari beberapa diskusi formal maupun non formal, kalangan luar Sumenep juga sepakat memberi catatan tentang Asta Tinggi keramat yang menjadi magnet massa hingga kini.
"Kenapa Asta Tinggi ramai dan menjadi jujukan para peziarah dari mana-mana, dibanding pasarean raja-raja di Madura lainnya? Karena di sana lebih kuat magnet kewaliannya daripada kekuasaan para rajanya," kata Faishal Baidlawi, salah satu anggota Tim 5wali Institute, sebuah wadah yang concern pada penggalian dan penelusuran tokoh-tokoh ulama awal Madura, di sebuah kesempatan.
Kini, jejak-jejak keramat para penguasa Sumenep itu berpadu dengan jejak-jejak intelektualitas keluarga Semarang, utamanya keluarga Terbaya. Jejak yang hanya terukir di lembar sejarah cemerlang masa lalu, dan ditulis dengan tinta emas yang bisu.
( M. Farhan M, Esha )