Sumenep-Infokom News Room : Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengusulkan penerimaan CPNS dari tenaga honorer di masa mendatang hendaknya berdasarkan data di lapangan, bukan berdasar pada formasi seperti tahun ini. Selain lebih transparan, cara tersebut juga untuk menghindari terjadinya protes dan praduga kecurangan. Menurut Kepala Pusat Komputer ITS, Dr. Ir. Ari Santoso, DEA selaku penanggung jawab koreksi hasil test CPNS tahun ini ketika dihubungi di kantornya beberapa waktu lalu, protes yang muncul itu disebabkan ketidak tahuan para peserta yang menganggap penerimaan tenaga honorer itu hanya berpatokan pada usia dan lamanya bekerja. Padahal, selain itu yang menetukan diterima atau tidaknya juga berdasarkan pada formasi. Ia mencontohkan, meski seorang tenaga honorer telah berusia 40 tahun dan pengalaman kerja mencapai 10 tahun, bisa saja tidak diterima, karena memang tidak dibutuhkan dalam formasi. Sebaliknya, ada tenaga honorer lainnya yang lebih muda usianya dan masa kerjanya juga belum lama, bisa diterima karena formasinya ada. “Dari data yang kami himpun, pada kasus penerimaan tenaga honorer tahun ini, sebagian besar adalah para tenaga honorer administrasi, yang hanya 10 prosen dari jumlah sekitar 14 ribu penerimaan tenaga honorer. Sisanya, formasi tenaga teknis yang bisa jadi diisi oleh tenaga honorer yang usianya lebih muda dan pengalaman sebagai tenaga honorer hanya beberapa tahun saja. Itu karena, formasi yang dibutuhkan sebagian besar adalah tenaga honorer administrasi�, terangnya. Bila pemerintah ingin mengangkat tenaga honorer yang lama bekerja, sebaiknya model penerimaan itu tidak menggunakan formasi kebutuhan, tapi berdasarkan pada data di lapangan. ( Rep, Esha )