News Room, Sabtu ( 25/02 ) Ada ide segar untuk menata Wisata Religi di Kabupaten Sumenep oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumenep yang baru, Drs. Bambang Irianto, M.Si. Yakni, dengan penataan transportasi wisata religi, sehingga bisa menumbuhkan ekonomi rakyat hingga dapat mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kabupaten Sumenep. Menurut Bambang irianto, ide untuk melakukan penataan wisata religi tersebut ketika dirinya melihat setiap harinya bis pariwisata yang datang dari luar kota ke Sumenep setiap harinya antara 5 sampai 10 bis bahkan lebih. Dan sayangnya bis-bis yang datang itu tidak tertata dengan baik, sehingga ketika parkirnya sembarang terkesan sembraut. “Karena itu, untuk melakukan penataan ini kami tidak mungkin bekerja sendiri, namun perlu adanya keterlibatan lintas sektoral seperti halnya Dinas Perhubungan dan sebagainya.”ujarnya. Salah satu solusi tegas mantan Kabag Umum Setkab Sumenep ini, perlu ada penataan parkir bis, misalnya di terminal lama (Tajamara), dan dilengkapi dengan pos informasi wisata dan pertokoan disana. Kemudian, para wisatawan dipersiapkan transportasi khusus wisata ke Asta Tinggi maupun ke Museum Kraton Sumenep. Yakni, bisa dengan menggunakan angkutan khusus berupa mobil dari Pemkab Sumenep, odong-odong atau dokar, sehingga terkesan lebih sakral, khususnya ketika akan masuk ke Asta Tinggi. Yang seharusnya tegas Bambang, tempat makam para raja dan keturunannya itu perlu untuk di sakralkan, seperti Asta di sejumlah tempat lainnya di Indonesia. Bahkan, jika perlu jalan menuju Asta Tinggi yang juga kearah Desa Kasengan itu diarahkan ke tempat lain. Sehingga para pengunjung Asta Tinggi hanya bisa berjalan kami dari bawah di Kantor KPU saat ini atau dengan menggunakan ojek. Dengan penataan seperti itu tegas Bambang bukan bermaksud mempersulit para wisatawan, namun, itu merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan baik kepada para pengunjung serta mengembambalikan kesakralan Asta Tinggi dan Kraton satu-satunya di Jawa Timur ini. “Jadi sekali lagi, perlu saya tegaskan pentingnya lintas sektoral untuk mewujudkan wisata religi di sumenep terwujud. Karena, kami optimis jika itu bisa dikelola dengan baik, yang lain akan ikut berkembang dengan sendirinya.”tambahnya. ( Ren, Esha )