News Room, Rabu ( 31/07 ) Pemerintah Kabupaten Sumenep sangat serius dalam membenahi masalah pendidikan, khususnya menyangkut 3 aspek utama, yakni akses pendidikan, kualitas pendidikan dan infrastruktur pendidikan. Hal tersebut diungkapkan Bupati Sumenep, KH. A. Busyro Karim, M.Si pada acara Silaturrahim Bupati dengan tokoh agama, tokoh masyarakat dan kaum dhuafa di Eks Pembantu Bupati Batang-batang (Gapura, Dungkek, Batuputih, dan Batang-batang) sekaligus penyerahan bantuan kemasyarakatan dan keagamaan tahun 2013, di Pendopo Kecamatan Gapura, Selasa sore (31/07). Menurutnya, di era kemerdekaan dan tingkat ekonomi masyarakat yang makin baik seperti saat ini, jangan ada lagi anak-anak yang tidak sekolah. Apalagi, untuk pendidikan dasar dan menengah, pemerintah telah menggratiskan biaya pendidikan, sehingga tidak akan memberatkan keluarga yang tidak mampu. “Salah satu tantangan besar pendidikan di Kabupaten Sumenep, yakni masih tingginya angka buta aksara. Dan mereka yang buta aksara rata-rata berasal dari kalangan orang tua,”kata Bupati. Hal itu menurut Bupati, mungkin bisa dimaklumi, sebab, zaman dahulu, akses pendidikan memang susah. Pada masa penjajahan misalnya, selain sekolahnya terbatas, anak didiknya juga terbatas pada kalangan darah biru dan anak pejabat. Hingga saat ini, jumlah angka buta aksara di Kabupaten Sumenep cukup tinggi. Tahun 2012, Kabupaten Sumenep menempati peringkat ke 2 nasional dan juga di Jawa Timur di bawah Kabupaten Jember. Pada tahun 2010, jumlah buta aksara di Sumenep mencapai 134.540 orang. Kemudian pada tahun 2011 menurun menjadi 124.787 orang, dan pada tahun 2012 berkurang lagi menjadi 107.848 orang. Sedangkan di Sumenep yang memiliki jumlah aksara tertinggi, didominasi oleh Kecamatan-kecamatan di eks Pembantu Bupati Batang-batang ini. Peringkat pertama ditempati Kecamatan Batang-batang yang berjumlah 9.317 orang. Peringkat kedua Kecamatan Batuputih yang berjumlah 8.433 orang, dan tempat ketiga Kecamatan Dungkek dengan jumlah 8.266 orang. Sedangkan untuk Kecamatan Gapura ada di peringkat keenam dengan jumlah buta aksara mencapai 6.579 orang. “Kami terus berupaya mengentaskan masyarakat Sumenep dari buta aksara. Oleh sebab itulah, saya berharap, bapak ibu yang tergolong buta aksara jangan sungkan-sungkan untuk belajar,”tambahnya. Sementara itu, untuk tahun 2013 ini Pemerintah Kabupaten Sumenep telah menganggarkan sebesar Rp. 5 milyar lebih. Dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dalam upaya mencapai target dari pemerintah daerah, bahwa pada tahun 2015 nanti, Sumenep harus bebas buta aksara. ( Ren, Esha )