News Room, Sabtu ( 03/05) Masyarakat kepulauan Kangean mengeluhkan sistem pelayanan kesehatan yang terus menurun. Sebab, sejumlah tenaga medis baik dokter maupun bidan kebanyakan meninggalkan tugas selama berbulan-bulan. Bahkan, dokter yang ada di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Sapeken, sudah dua tahun tidak ada di tempat, akibatnya pelayanan kesehatan nyaris lumpuh dan pasien banyak yang lari ke Banyuwangi dan Bali. Anggota DPRD Sumenep, Badrul Aini mengatakan, banyaknya tenaga medis yang tidak bertanggungjawab terhadap tugasnya, akibatnya masyarakat banyak yang dirugikan dan hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terampas. Padahal, warga kepulauan perlu pelayanan kesehatan secara prima. "Seharusnya itu tidak terjadi, karena dokter maupun bidan dibayar secara full oleh pemerintah, meskipun faktanya mereka sering meninggal tempat tugasnya," ujar Badrul Aini. Menurut Badrul Aini, ada tiga dokter yang selama ini sering meninggalkan tugas, yakni Kepala Puskesmas Kangayan, sering tidak ada di tempat, Puskesmas Arjasa sudah satu bulan tidak bertugas dan Sapeken sudah satu tahun menghilang. "Kalau bidan yang sedang tidak ada di tempat selama tiga bulan, baru satu yang saya temukan yakni di Desa Kangayan," tegasnya. Badrul juga menyayangkan dengan sikap dinas terkait, sebab selama tenaga medis itu tidak ada ditempat, tidak ada upaya untuk mencari pengganti, sehingga masyarakat tidak mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal. "Masyarakat merasa kesulitan untuk mengetahui penyakit yang dideritanya, sebab tidak ada petugas yang bisa mendiagnosa penyakit pasien, sehingga terpaksa harus dirujuk ke Banyuwangi atau ke Bali," paparnya. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, dr. Susianto, dalam pesan singkatnya mengakui, jika ada Kepala Puskesmas (dokter) yang sedang tidak ada di tempat, namun bukan berarti lalai terhadap tugasnya. "Dokter yang tidak ada itu sedang mengikuti test dan rapat di Surabaya, serta ada yang melanjutkan sekolah. Sebagian mereka sudah diperintahkan untuk kembali bertugas," terangnya. Susianto menjelaskan, kasus kekurangan dokter bukan hanya menimpa Kabupaten Sumenep saja, tapi juga terjadi di sejumlah Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Bahkan, kasus tersebut merupakan kasus nasional. Namun, untuk menambah kekurangan dokter di Sumenep, Pemerintah Kabupaten sudah berkoordinasi dengan Pemprov Jatim maupun Pusat, agar mendapatkan tambahan dokter. "Usaha untuk mendapatkan tenaga bidan dengan program PTT, Sumenep sudah dapat," tegasnya. Karena itu, pihaknya meminta kepada masyarakat kepulauan, untuk bersabar dengan keterbatasan tenaga medis utamanya dokter Puskesmas di kepulauan. ( Nita, Soek )