Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 01-11-2012
  • 443 Kali

Pemkab Sumenep Gelar Sosialisasi Sub PIN Difteri

News Room, Kamis ( 01/11 ) Merebaknya penyakit difteri di Kabupaten Sumenep, memaksa Pemerintah Kabupaten setempat bertindak cepat untuk melakukan langkah taktis. Salah satunya, dengan menggelar sosialisasi Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Difteri, terhadap tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan, pada Kamis (01/11) pagi. Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, sebanyak 20 kasus difteri terdeteksi di wilayah setempat, sejak Januari hingga akhir Oktober 2012. Bupati Sumenep, Drs. KH. A. Busyro Karim, M.Si dalam sambutannya mengatakan, penyakit difteri ini sebenarnya sudah dikenal dikalangan masyarakat secara umum, sejak setahun yang lalu, ketika Provinsi Jawa Timur menetapkan difteri sebagai kejadian luar biasa. ”Penyebab merebaknya wabah penyakit difteri ini tidak lain karena masyarakat tidak meng-imunisasi anak-anak mereka waktu kecil. Padahal vaksin DPT merupakan vaksin wajib dari 3 vaksin, yaitu untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus,”kata Bupati Sumenep, Kamis (01/11). Imunisasi tersebut sagat penting, guna membentengi diri dari masuknya berbagai penyakit ke dalam tubuh manusia. ”Jadi, salah satu cara untuk terlepas dari penyakit difteri ini adalah dengan imunisasi. Makanya, masyarakat modern sekarang ini, harus punya semangat tinggi untuk hidup sehat. Jangan berpikir ingin sembuh, tapi ubah pola pikir itu dengan menjaga kesehatan agar tidak sampai sakit,”terangnya. Oleh karena itu, Bupati meminta kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, agar komitmennya untuk terus proaktif melakukan pencegahan-pencegahan timbulnya penyakit di masyarakat. ”Ubah paradigma berfikir kita, seperti kata pribahasa sedia payung sebelum hujan. Artinya apa, program-program pencegahan itu harus lebih digalakkan daripada mengobatinya. Itu lebih bermanfaat dan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,”ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumenep, dr. Hj. Jetty Nurdyah Ningrum, M.Si menjelaskan, penyakit difteri ini disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphtheriae. Gejalanya bisa dirasakan oleh si penderita, seperti sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak dan lemas. Biasanya penyakit ini banyak meyerang terhadap balita. “Nah, dari 20 warga yang terjangkit difteri tersebut, diketahui 2 diantaranya meninggal dunia. Untuk kasus ini, kami sudah melakukan penanganan sesuai prosedur dengan mendatangi penderita guna memberikan pengobatan sekaligus pencegahan,”ungkapnya. ( Nita, Esha )