Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 07-09-2015
  • 580 Kali

Pemerhati : Tradisi Sastra Madura Mulai Melenyap

News Room, Selasa ( 08/09 ) Pada jaman Balai Pustaka, yaitu sekitar dekade 1920-an, buku-buku berbahasa Madura pernah menyesaki lemari maupun rak-rak buku di ruang perpustakaan sekolah. Baik buku terjemahan, saduran, maupun buku-buku yang dikarang oleh pujangga-pujangga Bahasa Madura sendiri.

Seperti yang diungkapkan RB. Abd. Karim, salah seorang pemerhati Bahasa Madura di Sumenep, bahkan beberapa majalah dan surat kabar di Madura dan Jawa memuat prosa/puisi bahasa Madura. "Seperti terbitan Kementrian P dan K Yogyakarta waktu itu, Mingguan Harapan, dan Koran Pelita,"kata pensiunan guru SD ini, pada News Room.

Ada juga beberapa majalah yang pernah hadir di tengah-tengah masyarakat penutur Bahasa Madura, seperti majalah Moncar di Surabaya, majalah Colok dan Nanggala di Sampang, dan majalah Panggudi di Pamekasan. "Sedangkan yang di Sumenep sendiri dulu terbit majalah Ekspres, Pajjar dan lain sebagainya,"tambah Karim.

Bahkan, seperti yang dituturkan Karim, banyak para ahli mengakui, jika bahasa Madura pernah memiliki tradisi sastra yang karya sastranya tergolong bermutu, baik dipandang dari kacamata sastra, maupun kandungan moralnya. "Yang mengakuinya seperti Ajib Rosidi dan Suripan Sadi Hutomo,"imbuhnya.

Namun sayang, kini tradisi Sastra Madura mulai dirasa melenyap. Belum terdengar lahirnya sastrawan-sastrawan generasi kemudian yang menciptakan karya sastra dalam Bahasa Madura. Meski ada sastrawan yang sudah muncul dan terkenal di kancah nasional maupun internasional, seperti Abdul Hadi WM, dan D Zawawi Imron misalnya, namun tidak dalam Sastra Madura.

"Saya dan para pemerhati Bahasa Madura yang lain tentu sangat berharap kondisi ini bisa berubah. Kita memiliki tradisi sastra yang kuat dan berkualitas. Semoga tradisi ini bisa bangkit lagi dan hadir dalam dinamika perkembangan Bahasa Madura," tutup Karim. ( Farhan, Esha )