News Room, Kamis ( 25 /06 ) Rumah Tahanan (Rutan) Sumenep tidak hanya dijadikan tempat menampungnya para tahanan, namun lebih tepatnya juga untuk membina sosial dan tempat menimba berbagai ilmu agama dan ketrampilan. Karena itu Rutan Sumenep disamping memberikan berbagai pembinaan ketrampilan, seni dan sebagainya, juga membina masalah pengetahuan keagamaan. Misalnya, bagi yang belum bisa melaksanakan sholat, disana ada pembimbing yang dengan telaten membimbing belajar melaksanakan sholat lima waktu hingga lancar. Hal tersebut diakui Kepala Rutan Sumenep, Modji Widodo, SH ketika ditemui sejumlah wartawan di kantornya tadi siang. “Kami prihatin, dari sekitar 121 tahanan yang ada saat ini, diperkirakan ada sekitar 30 persen tanahan yang tidak bisa mengaji maupun sholat. Kami bimbing mereka pelan-pelan, dan sudah menjadi rutinitas untuk melaksanakan sholat berjamaah di Rutan,â€Âujar Modji. Bahkan, Modji mengaku mengajak langsung mereka setiap waktu sholat. Dan hampir setiap waktu sholat Dhuhur, dia sendiri yang mengimami sholat, apabila tidak ada kegiatan keluar. Diakui Modji, rata-rata untuk pelaku tindak kejahatan curanmor, curanwan dan kejahatan lainnya, mayoritas mereka mengaku melakukan dengan alasan terpaksa karena himpitan ekonomi, disamping juga tentu karena lemahnya iman. Rata-rata para penghuni Rutan berusia 18 tahun keatas. Jadi, sebenarnya secara umum mereka sudah dewasa. Hanya saja, karena himpitan ekonomi dan dangkalnya imam, mereka mudah terjerat nafsu untuk melakukan hal-hal diluar nalar. Disamping itu, Modji juga berharap dalam pelaksanaan Pilres 8 Juli mendatang, para penghuni Rutan yang ada tetap memiliki hak sebagai rakyat untuk memberikan suaranya. Karena itu, pihak Rutan Sumenep telah memberikan data ke KPU Sumenep sejak 25 Maret 2009 lalu, untuk dilakukan pemungutan suara khusus di Rutan Sumenep. Termasuk juga sosialisasi pemungutan suara, sebab kadang mereka memang masih awam dan tidak tahu menahu soal pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden saat ini. ( Ren, Esha )