News Room, Senin ( 25/05 ) Faktor keberhasilan dalam pelaksanaan budidaya berbagai tanaman di Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep, yakni dilakukan dengan menggunakan teknik pendekatan secara kultural kepada para petani. Sebab, apabila hanya dilaksanakan dengan sistem demplot, kemudian dibiarkan dan tidak ada pembinaan berkelanjutan, maka akan ditinggal oleh petani. Hal tersebut diungkapkan Ketua Peneliti Budidaya Tanaman Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nasional Wilayah Jawa Timur, Ir. Zainal Arifin disela-sela kegiatan penelitiannya di Desa dan Kecamatan Saronggi, kemarin. Menurutnya, selama ini petani Sumenep khususnya memiliki respon yang sangat tinggi ketimbang daerah lain di Madura. Ternyata, salah satu faktor yang mendukung dalam penerapan budidaya adalah pendekatan kultural yang dilakukan oleh para Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang ada di masing-masing Desa dan Kecamatan. "Kita lihat selama ini keberhasilan dalam melaksanakan budidaya berbagai tanaman di Sumenep, hampir dipastikan terlaksana sukses dan tingkat keberhasilannya cukup tinggi,"terang Zainal, yang juga kelahiran Sumenep ini. Hal itu jelas merupakan metode yang perlu dikembangkan di daerah lain. Sebab, apabila budidaya tanaman tertentu sudah berhasil dilaksanakan disalah satu Desa tertentu, tetap perlu dikembangkan di Desa lain diwilayah tersebut. Bahkan, jika memang perlu tetap harus dikembangkan diluar daerah. Karena itulah, upaya budidaya tanaman yang dilakukan secara pendekatan kultural di Sumenep, juga penting untuk dijadikan pilot project didaerah lain. Meskipun kemungkinan tatacara dan penerapannya berbeda, namun setiap daerah jelas memiliki kultur yang berbeda pula. Namun yang jelas pendekatan kultural tetap menjadi modal utama dalam melaksanakan sosialisasi maupun pelaksanaannya. Dicontohkan, ketika dilakukan budidaya tanaman Jagung Hibrida, Padi Hibrida, kedelai, buah naga, serta beberapa tanaman lainnya yang merupakan pilot project, masyarkat sangat antusias dan melaksanakan budidaya tanaman tersebut dengan sungguh-sunguh. Bahkan, dalam perjalanannya tidak lantas dibiarkan, namun tetap dilakukan pertemuan-pertemuan melalui kelompok tani, Gapoktan serta dalam bentuk-bentuk lain, seperti acara pengajian dan sebagainya. Hal itu ternyata sangat efektif dalam melaksanakan setiap upaya budidaya tanaman tertentu. (Ren, Esha )