News Room, Rabu ( 06/05 ) Meskipun Departemen Agama Kabupaten Sumenep telah melakukan klarifikasi terkait salah satu soal mata pelajaran sejarah pada naskah UAM untuk siswa kelas XII jurusan Bahasa di MAN Sumenep. Yang sempat diprotes keras anggota Fraksi PDIP DPR-RI, MH. Said Abdullah, Ternyata masih disesalkan Kader PDIP Sumenep, Hunain Santoso terhadap soal yang dibuat guru dari Pamekasan yang tergabung dalam Tim Penyusun Soal tersebut. Meskipun diakui memiliki referensi dan mengaku memiliki sumber acuan, dan dibuat tanpa tendensi politik apapun. Namun menurut Hunain Santoso harus dibuktikan. “Kalau memang memiliki referensi, buktikan, referensi dari mana. Sebab, jangan-jangan yang dijadikan referensi justeru dari buku yang memang mengandung politis,â€Âujarnya. Menurutnya, Depag Sumenep tidak boleh tinggal diam melihat kenyataan tersebut, dan harus melakukan tindakan klarifikasi dan mencari sejauh mana pembuatan soal itu benar-benar memiliki referensi yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Sumenep, Drs. M. Kamalil Ersyad, M.Pd mengungkapkan, standart yang menjadi acuan dalam pembuatan soal pendidikan harus melihat tiga barometer, yakni kognetif, efektif dan psikomotor. “Sejauhmana barometer itu dilaksanakan. Sebab, jika sudah nyerempet pada persoalan politis, sangat banyak tergantung pada pembuat soal. Sangat tidak terhormat sebagai guru, apabila mengambil barometer standart ganda dengan mengaitkan pada persoalan politis,â€Âujarnya. Memang diakui politisi asal PKB ini, jika menyangkut etika sulit masuk pada ranah hukum, namun hanya dibutuhkan komitmen dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar. Karena itu, Kamalil Ersyad berharap kedepan perlu dilakukan evaluasi setiap akan menghasilkan sebuah produk, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan dalam persoalan tersebut. ( Ren, Esha )