News Room, Senin ( 14/03 ) Turquoise (asal kata Perancis) atau yang biasa dikenal dengan batu pirus memang menakjubkan. Pra demam akik hingga pasca demam akik, batu yang pertama kali dibawa ke Eropa oleh Bangsa Turki ini masih tetap eksis. Khusus di Sumenep, nilai batu ini seakan tak bisa tergeser oleh batu permata sekalipun, terutama bagi kalangan penggemarnya.
“Batu akik biasa sekarang sudah macet. Kecuali pirus,”kata Deny Fahrurrazi, salah satu penggemar dan kolektor akik di Sumenep, pada Media Center.
Menurut Deny, harga batu pirus tetap stabil, bahkan untuk jenis tertentu, harganya masih tetap tembus hingga puluhan juta. “Khusus pirus di Sumenep seakan tak pernah mati pasar,”tambahnya.
Dalam pantauan Media Center, bisnis akik di Sumenep memang sudah sepi. Bisnis ring akik yang juga mengiringi demam batu tersebut juga sudah mulai menyusut. Tak hanya itu, gema akik di kalangan warga Sumenep juga sudah hampir senyap.
“Saat ini sudah tak ngetop lagi. Di jalan-jalan, pekantoran, dan tempat-tempat umum, akik sudah tak lagi menjadi grand topic alias sudah tak populer. Ya biasa, mungkin perubahan angin,”kata Ijank, warga Pandian yang biasanya suka memakai beberapa jenis batu akik di jari-jari kedua tangannya.
Senada, Huda, warga Parsanga juga mengaku sudah bosan dengan akik. Beberapa jenis batu yang sempat dikoleksinya dulu juga saat ini sudah tak lagi dipedulikannya.
“Tak tahu sudah saya simpan di mana. Tapi kalau jenis pirus saya kadang makai. Karena saya dengar itu kebiasaan orang-orang kuna di Sumenep,”katanya sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )