Media Center, Kamis ( 08/07 ) Tak banyak yang tahu, jika Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Virtual tingkat Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sedunia tahun 2021, Ketua Jurinya adalah Prof. Dr. KH. M. Asy’ari, M.Ag, asal Kepulauan Masalembu Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Santri KH. M. Yahya Sumbul, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Assalafiyah NU Kampung Mandar Masalembu ini dipercaya sebagai Ketua Juri MTQ Tingkat PCINU sedunia tahun 2021 yang akan dilaksanakan pada 10 Juli -10 Agustus 2021, bertempat di Wisma PCINU Khartoum Sudan, sebuah negara yang terletak di Benua Afrika Bagian Utara.
Saat dihubungi melalui pesan WhatsApp (WA), Prof. Dr. KH. M. Asy’ari, M.Ag, yang pernah berguru pada Hj. Manirat (ibu kandung) sekaligus Guru Tilawah H. Muammar ZA, Kamis (08/07/2021) mengirimkan beberapa narasi yang berjudul “Membentuk atau membangun generasi Qur'ani korelasinya dengan moderasi Islam dalam konteks dunia".
Dalam paparan pertama tentang fenomena Islam di Indonesia yang menjadi perbincangan menarik bagi para peneliti baik dalam maupun luar negeri. Hal itu dikarenakan populasi masyarakat muslim di Indonesia mancapai lebih dari 200 juta jiwa. Karakter masyarakat muslim Indonesia yang identik dengan sikap humanis, toleran, ramah dan damai terhadap pemeluk agama lainnya.
“Sifat ini merupakan ciri khas dan pembeda antara masyarakat muslim Indonesia dengan masyarakat muslim Timur Tengah. Karena ada perbedaan kondisi dan persoalan yang dihadapi,” paparnya.
Oleh karena itu, menurut Prof. Asy’ari, dibutuhkan jawaban yang tegas dari para tokoh muslim Indonesia. Untuk menunjukkan indentitas Islam yang moderat dalam berwacana dengan isu-isu global yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Paparan kedua, banyak pandangan yang kurang tepat terhadap Islam Indonesia yang tergambar dari beberapa fenomena. Seperti fenomena perilaku mistical, radikal, liberal, dan lain sebagainya.
Pandangan tersebut lahir dari persepsi terhadap sebuah fenomena untuk menggambarkan secara universal, holistik (menyeluruh) tentang karakter Islam Indonesia.
Dalam perjalanan sejarah Indonesia, menurut Prof. Asy’ari, Islam di Indonesia muncul dalam berbagai gambaran yang diistilahkan oleh para peneliti dengan berbagai istilah. Abangan, tradisional, modernis, puritan, subtantif, militan, nasionalis, literalis, dan sebagainya.
"Untuk itu, kita perlu mengkaji lebih cermat dan mendalam corak Islam Indonesia yang tergambar dari pemikiran para tokoh muslim nasional dan respon mereka terhadap persoalan yang melanda bangsa Indonesia,” tambahnya.
Ditambahkan, istilah Islam Indonesia sebetulnya menuju pada praktek aktualisasi ajaran Islam di Indonesia. Meskipun umat Islam Indonesia mempercayai rukun Iman dan menjalankan rukun Islam serta ibadah-ibadah lainnya yang sama dengan umat Islam di negara lain.
Namun, tegas Prof. Asy’ari, Indonesia memiliki distingsi tersendiri dalam aktualisasi kehidupan sosial budaya keislamannya yang tidak ditemukan di negara lain. Harapannya, watak dan karakteristik Islam di Indonesia yang damai, ramah dan toleran. Sifat ini bisa diharapkan menjadi cerminan Islam di masa yang akan datang. Sehingga Islam di Indonesia bisa menjadi percontohan yang dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat dunia.
“Ini bukan suatu hal yang berlebihan dalam menilai Islam di Indonesia. Mengingat ragam budaya yang ada di dalam luasnya wilayah Indonesia, dengan sistem demokrasi dan jumlah penduduk muslim sebagai mayoritas. Islam Indonesia tetap kokoh sebagai Islam moderat yang tidak mengenal sikap-sikap anarkis,” paparnya lagi.
Terakhir, ketika ditanya apa harapannya dalam MTQ Virtual Tingkat PCINU sedunia tahun 2021 di Sudan, Guru Besar IAIN Madura yang baru 5 bulan ini dan sebelumnya 26 tahun di IAIN Palu, serta 3 kali Qari Nasional Duta Sulawesi Tengah dan beberapa kali Dewan Hakim Nasional dan Internasonal ini berharap dapat menjadi salah satu sumber kesejukan, sumber mata air melimpahnya ukhuwah dan kerukunan masyarakat dunia, baik Ukhuwah Islamiah, Ukhuwah Wathaniyah, maupun Ukhuwah Basyariyah. ( Ren, Fer )