News Room, Selasa ( 22/12 ) Dalam perspektif agama memang tidak ada yang namanya peringatan Hari Ibu yang setiap tahunnya jatuh tanggal 22 Desember. Namun ya bukan berarti kita tidak diperbolehkan memperingati Hari Ibu. Apalagi jika dalam peringatan tersebut kita memuliakan perempuan yang notabene seorang ibu. Karena Allah sendiri dalam Al-Quran memerintahkan agar kita memuliakan kedua orang kita, yang tentu saja salah satunya ibu.
“Seperti dalam surah Luqman ayat 14-15 yang artinya "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua ibu bapakmu; hanya kepada-Ku engkau akan kembali",”kata salah satu tokoh agama di Sumenep, Drs. K. Moh. Raheli pada Media Center.
Perintah itu menurut Kiai Raheli sudah jelas, sehingga konsekuensinya kita dilarang keras menyakitinya kedua orang tua seperti yang tertera dalam surah Al-Isra ayat 23-24 yang artinya ”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah!". Jangan pula engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku! Sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku semenjak kecil."
“Kemudian khusus pada ibu, dalam hadits Muttafaq alaih seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi SAW menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." Jadi senyampang Hari Ibu tidak bertentangan dengan syariah, tentu kita sangat mengapresiasi momentum tersebut, meski yang lebih baik lagi memuliakan ibu itu tak hanya di saat Hari Ibu saja, melainkan setiap saat,”tambah Kiai Raheli.
Terpisah, salah satu warga Sumenep, R. Aj. Silfanida mengatakan, Hari Ibu memang perlu dirayakan. Namun tentunya tidak sebatas perayaan seremonial atau karnaval belaka. Tidak sebatas diekspresikan di hari itu semua Ibu diberi kebebasan dari tugas-tugas rumah tangga, seperti mengurus anak dan suami, mengurus rumah dan semacamnya.
“Hari Ibu jangan sampai seperti hari kemerdekaan, di mana hanya di hari atau di bulan itu saja kita mengibarkan merah putih dan mengenang jasa pahlawan, serta membangkitkan jiwa cinta tanah air.
Hari Ibu diharapkan bisa menjadi penyemangat seperti halnya semangat Ramadlan, sehingga setiap hari setelahnya bisa menjadi hari-hari di mana setiap Ibu dimuliakan keberadaannya. Karena bagi saya, Ibu itu seperti jimat hidup, karena ridla Allah bergantung ridlanya, murka Allah dari murkanya, dan SurgaNya berada di bawah telapak kakinya,”kata Jeng Ida, panggilan akrabnya.
Sementara Rifqil, salah satu karyawati dan Mahasiswa asal Sumenep mengatakan bahwa bagi dirinya, setiap hari itu juga Hari Ibu sekaligus hari ayah. Jadi, hari-hari setiap anak ketika berbakti, memuliakan, dan tidak mendurhakai ibu dan ayah, maka hari itu bagi Rifqil adalah Hari Ibu. Ibu disebutnya yang menjadi pintu masuk anak ke alam dunia ini. Tanpa perantara ibu, maka mustahil setiap orang itu ada.
“Oleh karenanya saya menghimbau kepada semua saudara-saudara jangan lupa, bahwa diri kita ini berasal dari air susunya, dari daging dan darahnya. Meski secara penisbatan nasab itu pada laki-laki atau ayah, namun tentu tidak mungkin kita lahir tanpa seorang ibu. Jadi mari jadikan setiap hari itu sebagai Hari Ibu, sekaligus hari ayah. Dan yang terpenting, kita harus bisa membuat kedua orang tua itu bahagia, paling tidak jangan sampai menyakiti perasaannya. Rasulullah SAW ditanya tentang peranan ke dua orang tua. Beliau lalu menjawab, Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.’ Jadi muliakanlah mereka,”tutup Rifqil sambil tersenyum manis. ( Farhan, Esha )